Peristiwa

Sriwijaya Air Jatuh, Salah Satu Penumpang Warga Kelahiran Ponorogo

Suasana rumah duka di Desa Ngabar Kecamatan Mlarak. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Salah satu penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di laut sekitar kepulauan Seribu, ada yang berasal dari Ponorogo. Dia adalah M. Nur Kholifatul Amin. Namun, sudah lebih 20 tahun ini, Dia meninggalkan kampung halamannnya di Desa Ngabar Kecamatan Mlarak untuk merantau ke Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat. Sang istri, Agus Minarni juga ikut dalam penerbangan yang awalnya hilang kontak pada Sabtu (9/1) siang itu. Mereka juga tercatat dalam manifest pesawat naas tersebut.

“Beliau dengan istri ke Ponorogo untuk takziah. Bapak kami meninggal pada bulan Desember tahun lalu,” kata Abdul hanif Majid Amrullah, yang merupakan adik kandung dari M. Nur Kholifatul Amin, saat ditemui di Desa Ngabar, Senin (11/1/2020).

Hanif menceritakan, rencana awal kakaknya kembali ke Kalimantan pada Senin (4/1). Keluarga di Ponorogo mengantar keduanya ke Madiun, naik kereta api untuk ke Jakarta. Sesampainya di bandara, untuk terbang ke Pontianak harus menunjukkan hasil pemeriksaan PCR.

“Akhirnya tiketnya hangus, karena belum ada persiapan untuk syarat hasil PCR tersebut,” katanya.

Kemudian Nur Kholifatul dan istri melakukan swab untuk pemeriksaan PCR. Hasilnya tidak langsung bisa diketahui, mereka harus menunggu hasil tersebut kurang lebih tiga hari. Selama di Jakarta itu, Hanif menyebut jika kakanya menumpang di rumah temannya. Hingga keluar hasil PCR tersebut, mereka akhirnya bisa berangkat ke Pontianak pada hari Sabtu tersebut.

“Kakak saya itu biasanya tidak pakai Sriwijaya Air. Mungkin hari itu adanya jadwal Jakarta-Pontianak ya Sriwijaya Air itu,” katanya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar