Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Situs Patakan dan Penetapan Sima Masa Raja Airlangga di Lamongan

Situs Patakan, yang berada di Dusun Montor, Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Situs Patakan yang ditemukan di Dusun Montor, Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, pada tahun 2011 banyak menyedot perhatian publik, utamanya kalangan akademisi.

Arkeolog BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya), Wicaksono Adi Nugroho menyampaikan bahwa kuat dugaan komplek situs Patakan berasal dari zaman kerajaan Airlangga, sekitar abad XI masehi, yang digunakan untuk peribadatan suci yang didermakan kepada Raja.

Pendapat itu didukung dengan adanya fakta epigrafis pada Prasasti Pamwatan yang hilang tahun 2003, berangka tahun 1042 M dan Prasasti Terep yang berangka tahun 1032 M.

Dalam Prasasti Terep, diceritakan, Airlangga pernah dikalahkan dalam peperangan oleh pasukan yang dipimpin raja perempuan, sehingga ia dan sejumlah bala tentaranya harus meninggalkan keraton di Wwatan Mas dan berlindung di Patakan, karena ada jaminan keamanan dan perlindungan dari masyarakat setempat.

Lalu juga Prasasti Pasar Legi yang berangka tahun 1043 M yang memuat tentang penghargaan yang diberikan kepada penduduk Patakan sebagai tanda jasa.

Situs Patakan, yang berada di Dusun Montor, Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan.

“Selain itu, juga diperkuat dengan bukti Prasasti Patakan (kini di Museum Nasional Jakarta) yang memuat tentang pemberian anugerah berupa Sima (bebas pajak bumi) kepada Desa Patakan karena memelihara bangunan suci Sang Hyang Patahunan,” ujar Wicaksono.

Pada awal penemuan situs Patakan ini, ungkap Wicaksono, ditandai dengan ditemukannya lumpang batu, fragmen keramik, pecahan tembikar, pondasi bangunan, dan telaga. Kini, situs ini sudah dilakukan ekskavasi sebanyak 4 (empat) tahap.

Empat tahap itu yakni tahap pertama dilakukan pada tahun 2013, tahap kedua tahun 2018, tahap ketiga tahun 2019, dan tahap keempat tahun 2020.

“Sebagian besar struktur bangunan situs ini terdiri dari tatanan batu putih berbentuk persegi dengan ukuran bervariasi dan saling berkaitan. Bagian atapnya mengalami keruntuhan. Juga tidak ditemukan relief pada struktur bangunan, sehingga memberikan interpretasi jika situs Patakan ini adalah bangunan Wihara,” terangnya.

Penetapan Sima Patakan oleh Airlangga

Berdasarkan informasi yang terbaca dari Prasasti Patakan, diketahui bahwa prasasti ini memuat beberapa hal, meliputi status Sima (pelarangan terhadap orang-orang untuk memasuki daerah Sima Patakan), tindak pidana yang dikenai denda, pajak barang dagangan, pajak bagi pengrajin dan warga Kilalan (profesional), serta Sapatha (sumpah serapah, semacam kutukan).

“Sima artinya batas. Sima adalah sebidang tanah yang memiliki kekuatan hukum yang pasti dan mempunyai status Swatantra yang berarti para penarik pajak kerajaan tak boleh memasuki daerah Sima,” tutur Sejarawan Lamongan, Supriyo, sekaligus penemu situs Patakan.

Lebih jauh, menurut Supriyo, karena warga Patakan menjaga bangunan suci Bhatara ri Sang Hyang Patahunan, maka status Sima Patakan ini termasuk Sima Punpunan, yang berkaitan dengan bangunan keagamaan, wihara atau kabikuan.

Penetapan Sima ini disahkan melalui suatu upacara yang terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah persiapan, kedua pelaksanaan upacara yang meliputi Pisungsung, saji-sajian, cara duduk, upacara korban, perlindungan dan kutukan, serta menanam batu Sima, lalu ketiga adalah upacara penutup.

“Serangkaian upacara Sima ini menyebut tentang denda, hukuman, ataupun kutukan yang menjadi dasar dari kelangsungan hidup tanah Sima, dan berlaku hingga akhir zaman,” pungkas pria yang juga Ketua Lesbumi NU Lamongan tersebut. [riq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar