Peristiwa

Di Situs Kliterejo Terpahat Tahun Saka 1.294, Era Hayam Wuruk

Tim BPCB Jawa Timur saat ekskavasi di Situs Kliterejo. Foto : misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Selama 12 hari dilakukan ekskavasi (penggalian) di Situs Kliterejo yang terletak di Desa Kliterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, tim Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur diyakini sebagai bangunan suci. Yakni era Hayam Wuruk.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UNM), Ismail Lutfi mengatakan, melihat hasil akhir terutama di sektor barat, ada kecenderungan pola dasar bangunan mirip ada di candi lain. “Seperti di Candi Penataran, jadi pola candi untuk masuk ke candi utama ada dua jalan berdampingan,” ungkapnya, Sabtu (31/8/2019).

Namun, lanjut Lutfi, tim BPCB belum menemukan satu di bagian utara. Terkait fungsi, diyakini Situs Kliterejo merupakan bangunan suci, yakni semua bangunan suci yang mengarah pada kuil atau pemujaan. Yang selama ini pula, tegas Lutfi, banyak yang menganggap candi itu sebagai makam.

“Tapi kita punya bukti kuat bahwa dalam proses ekskavasi restorasi candi, tidak pernah menemukan di dalam candi ada sisa-sisa jenazah. Dulu diprabukan tidak selalu ditanam. Kalaupun ditanam itu ada pertanyaan, itu abu manusia, tanaman atau binatang,” katanya.

Pasalnya, pihaknya tidak pernah melakukan secara laboratorium sehingga sangat lemah argumen terkait jasad saat dibakar atau ditanam di candi. Karena tidak ada bukti secara akademis sehingga sementara ini, memang candi sebagai tempat pemujaan.

“Karya sastra digunakan darma itu sangat relevan karena itu tempat untuk memuliakan seseorang, sangat masuk akal. Disini ada batu merah dan andesit, itu merupakan perpaduan yang sangat wajar. Apalagi Majapahit di era sebelum Majapahit juga sama, perpaduan batu merah dan batu itu sangat bagus,” terangnya.

Bahkan, lanjut Lutfi, pada bangunan tampak luar batu semua, namin di dalam sering kali ditemukan bata merah. Contoh di Candi Sewu, Jogjakarta yang pada bagian luar merupakan batu tapi di dalamnya ada susunan bata karena ada konsep yang terkait dengan persoalan simbolisme dari bata sendiri.

“Bata bisa dikatakan sebagai perwakilan panca maha putra, lima unsur kehidupan alam semesta diwakili dengan adanya bata. Jadi kulitnya batu dalamnya bata. Kalau masa pembangunan ini beruntung sekali karena di dalam yoni ada angka tahunnya. Jadi itu sangat absolute penanggalannya. Terpahat 1.294 tahun saka atau era Hayam Wuruk,” tuturnya.

Menurutnya, angka tahun tidak berhubungan dengan orang yang hidup tapi siapa yang dimuliakan di sini sehingga muncul tafsiran dari awal dulu bangunan dikaitkan dengan tokoh yang dahulu dibandingkan dengan Hayam Wuruk yakni ibunya Tribuana Tunggal Dewi. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar