Peristiwa

Siswa Korban Bully di Malang Jarinya Harus Diamputasi, Psikisnya Juga Terganggu

Bagian hukum LPA Kota Malang, Zainuddin A. Albar.

Malang (beritajatim.com) – Kasus perundungan atau bullying yang dialami oleh MS siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Kota Malang memantik simpati dari warga kota. Sebab, MS tidak hanya menderita luka fisik saja namun juga psikis karena rentetan kekerasan yang dia alami di lingkungan sekolahnya.

MS menderita luka di bagian pergelangan tangan, jari tengah tangan kanan, punggung dan kaki. Jari tengahnya harus amputasi karena lukanya sudah membusuk. Sementara secara psikis dia sering ketakutan dan menangis sendiri saat didatangi banyak orang di ruang rumah sakit.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang meminta dengan tegas orangtua atau wali murid dari tujuh siswa terduga pelaku perundungan kepada MS bertanggung jawab. LPA Kota Malang merupakan lembaga yang ditunjuk oleh keluarga MS untuk melakukan pelindungan.

“Bagi kami hal itu adalah bentuk pidana, tapi di luar ini para pelaku ini juga masih anak-anak. Meski begitu perlu ada efek jera agar tidak melakukan itu lagi. Harus ada tanggung jawab dari orangtua terduga pelaku,” ujar bagian hukum LPA Kota Malang, Zainuddin A. Albar, Selasa, (4/2/2020).

Zainuddin mengatakan, meski sempat ada upaya perdamaian antara keluarga korban dan keluarga terduga pelaku, LPA menilai keluarga terduga pelaku harus bertanggung jawab atas psikologis korban. Termasuk biaya pengobatan korban.

”Selain pengobatan, penyembuhan secara psikologis juga butuh jangka waktu lama. Apalagi korban kehilangan waktu belajar yang banyak, siapa yang akan bertanggung jawab, prosesnya ini belum selesai,” tandasnya. [luc/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar