Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Sidak Pengolahan Tepung Bulu Ayam, Wabup Sidoarjo Temukan Ini

Sidoarjo (beritajatim.com) – Wakil Bupati Sidoarjo H. Subandi, menjawab keresahan warga terkait polusi yang ditimbulkan dari home industri pengolahan tepung dari bulu ayam di Desa Kletek, Kecamatan Taman dengan melakukan sidak langsung didampingi oleh anggota DPRD Komisi C, Suyarno, Camat Taman dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo serta Kades Kletek.

Ada dua lokasi yang disidak, yang pertama pengolahan bulu ayam. Dilokasi ini Wabup Subandi tidak bertemu pemiliknya yang terlihat hanya pekerja yang sedang mengolah bulu ayam.

“Dimasa pandemi Covid-19 kita tidak menekankan yang berlebihan, kecuali terkait masalah pengolahan bulu ayam yang menimbulkan bau di udara yang menyengat,” kata Wabup Subandi, Rabu (29/9/2021).

Subandi menambahkan, yang usaha olahan tepung dari bulu ayam, baunya sangat menyengat, ijin juga tidak ada dan sangat mengganggu limbah udara yang ada di lingkungan. Pemkab menindak lanjuti mau tidak mau harus ditutup.

“Jangan sampai ada orang usaha yang mengganggu lingkungan, itu yang penting,” tegasnya.

Sementara dari Komisi C DPRD Kabupaten Sidoarjo Suyarno, pada dasarnya tidak mau membatasi adanya investor akan mendapat PAD. Tapi harus ada check and balance, artinya kalau mau berusaha tolong terkait dengan lingkungan harus dijaga.

Wabup Sidoarjo H. Subandi berada di dalam pabrik pengolahan tepung bulu ayam

Olahan tepung dari bulu ayam ini, yang jadi sorotan adalah bahan bakunya dari tempat pemotongan hewan yang kurang higienis, karena tidak dibersihkan dulu sebelum dibawah ke lokasi produksi. Ini menimbulkan bau yang menyengat.

“Hendaknya semua terkait usaha perijinan harus dilengkapi, sarana dan prasarana harus memadai, sehingga komplain, polemik di masyarakat akan kita perkecil,” harapnya.

Setelah melakukan sidak, dilanjutkan dengan pembahasan mencari solusi yang tepat atas pengaduan masyarakat, dan polusi lingkungan dari usaha olahan tepung dari tersebut di Kantor Desa Kletek.

Sementara itu, Rokib yang sempat memiliki usaha pengolahan kotoran ayam sempat menceritakan kalau usahnya dulu mendapat komplain dari warga sekitar. Namun usahanya sudah ditutup dan semua mesin sudah dipindah ke Mojokerto.

“Saya sudah lama tutup tidak mengelola bulu ayam lagi setelah mendapat teguran dari DLHK karena surat – suratnya tidak lengkap,” jelas rokib.

Rokib juga menjelaskan kalau saat ini pekerjaan ini hanya sampingan, mengolah kotoran ayam menjadi tepung untuk pupuk. Setiap bulannya hanya kirim 2 kali, setiap kirim sekitar 7 ton. “Pekerjaan ini sudah saya lakukan sekitar 20 sampai 25 tahunan, tidak ada warga sekitar yang komplain,” akunya. (isa/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar