Peristiwa

Di Kabupaten Mojokerto

Setiap Kecamatan Ada 3 Kampung Tangguh

Kapolres Mojokerto, AKBP Feby DP Hutagalung. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Polres Mojokerto saat ini menyiapkan Kampung Tangguh di wilayah hukumnya. Setiap kecamatan, terdapat tiga ‘Kampung Tangguh’.

Kapolres Mojokerto, AKBP Feby DP Hutagalung mengatakan, saat ini Polres Mojokerto mempersiapkan pembentukan Kampung Tangguh. “Setiap kecamatan ada 3 Kampung Tangguh yang prototipe dan role model. Maksud dan tujuannya untuk memandirikan masyarakat,” ungkapnya, Rabu (27/5/2020).

Masih kata mantan Kapolres Lamongan ini, Kampung Tangguh itu untuk memandirikan masyarakat serta meningkatkan kepatuhan dan kesadaran masyarakat dengan motto disiplin dan gotong royong. Sesuai instruksi Kapolda Jawa Timur, di Kampung Tangguh dengan pendekatan POP (Problem-Oriented Policing).

“Masyarakat harus melakukan skining permasalahan yang ada di desa tersebut setelah itu dianalisa. Selanjutnya, baru dicari solusinya seperti apa dan yang bisa memecahkan permasalahan itu dari warga desa setempat itu sendiri. Yakni dengan cara gotong royong,” katanya.

Kapolres mencontohkan, ada warga yang terdampak secara ekonomi atau ada warga yang mengalami gejala indikasi Covid-19. Maka di Kampung Tangguh ada kebersamaan untuk membawa ke fasilitas kesehatan (faskes) secara mandiri.

“Maka isolasi mandiri bisa diterapkan. Mereka saling mengawasi untuk mendisiplinkan secara bersama-sama. Sehingga motto disiplin dan gotong royong inilah yang akan kita aplikasikan agar masyarakat menyadari yang selama ini mungkin kurang maksimal,” ujarnya.

Dengan adanya wabah Covid-19 dan Kampung Tangguh ini, lanjut Kapolres, sehingga masyarakat menganggap bahwa gotong royong memang sangat dibutuhkan khususnya di pedesaan. Kapolres berharap kedepannya, seluruh desa dan kelurahan yang ada di wilayah hukum Polres Mojokerto menjadi Kampung Tangguh.

“Ada 3 desa dulu di setiap kecamatan yang bisa dijadikan role model, nanti diharapkan menular kepada desa atau kampung lainnya. Yakni bisa meniru dan melaksanakan yang sama, tentunya sesuai dengan karakteristik di desa masing-masing,” tegasnya.

Kapolres menambahkan, Kampung Tangguh yang disiapkan saat ini berdasarkan penilaian dari masing-masing Camat, Kapolsek dan Danramil. Namun nantinya diharapkan seluruh desa dan kelurahan di wilayah hukum Polres Mojokerto bisa menjadi Kampung Tangguh.

Salah satu Kampung Tangguh di wilayah hukum Polres Mojokerto yakni Desa Bejijong di Kecamatan Trowulan. Desa Bejijong disiapkan sebagai Kampung Tangguh karena memiliki beberapa fasilitas penunjang dalam rangka kesiapan dalam pencegahan penyebaran covid-19. Diantaranya tersedianya posko desa sebagai pusat pengendali kegiatan Kampung Tangguh dan pengolahan data baik warga lingkungan maupun pendatang yang masuk ke Desa Bejijong.

Ketersediaan sarana cek point berupa pos jaga pada akses masuk desa yang diawaki oleh potensi masyarakat seperti Linmas, TNI/Polri, Babinsa dan Bhabinkamtimas maupun unsur masyarakat lainnya. Mereka bertugas melakukan kontrol dan pemeriksaan awal serta pendataan terkait siapa saja yang masuk ke Desa Bejijong.

Protokol kesehatan juga diterapkan secara ketat di Kampung Tanggung. Meliputi pengecekan suhu badan, mewajibkan memakai masker dan mencuci tangan serta melakukan penyemprotan disinfektan terhadap kendaraan maupun barang bawaan warga. Kemudian ketersediaan lumbung pangan mandiri, sarana berupa ruang karantina, bilik disinfektan pada fasilitas umum (fasum) tempat ibadah.

Serta sudah adanya tim khusus pemulasaran jenasah pasien Covid-19 jika ada diperlukan untuk membantu pemakaman warga di Desa Bejijong. Nah, hal-hal itulah yang menjadi alasan Desa Bejijong menjadi Kampung Tangguh di wilayah hukum Polres Mojokerto. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar