Peristiwa

Sepanjang Tahun 2020, 78 Kasus Kebakaran Terjadi di Kabupaten Mojokerto

Kasus kebakaran di wilayah Kabupaten Mojokerto. [Dok BPBD Kabupaten Mojokerto]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus kebakaran di Kabupaten Mojokerto masih cukup tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat, ada 78 kasus kebakaran yang terjadi mulai bulan Januari hingga pertengahan bulan September 2020 atau rata-rata delapan kasus setiap bulan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, sebanyak 78 kasus kebakaran tersebut terjadi sejak bulan Januari hingga pertengahan September 2020. “Ada sebanyak 78 kasus kebakaran, mulai kebakaran rumah, lahan, hutan, tempat usaha, industri, gedung hingga instalasi listrik,” ungkapnya, Senin (21/9/2020).

Dengan rincian, kebakaran rumah sebanyak 12 kasus, kebakaran lahan sebanyak 23 kasus, kebakaran industri atau tempat usaha sebanyak 33 kasus, kebakaran gedung sebanyak satu kasus, kebakaran instalasi listrik sebanyak dua kasus dan kebakaran hutan sebanyak tujuh kasus. Sebanyak 78 kasus kebakaran hampir terjadi di 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.

“Daerah yang rawan kebakaran di Kecamatan Ngoro karena di sana ada NIP, Kecamatan Jetis dan Kecamatan Trowulan. Dengan luas wilayah Kabupaten Mojokerto yang cukup besar, BPBD hanya memiliki 6 unit mobil PMK. Petugas juga kesulitan saat menuju lokasi kebakaran, di jalan kurangnya kesadaran penguna jalan untuk memberi akses jalan mobil PMK,” katanya.

Sekian itu, lanjut Zaini, di lokasi kebakaran juga minimnya sumber air ketika memasuki musim kemarau sehingga cukup menyulitkan petugas untuk melakukan pemadaman. Sementara hydrant atau sumur buatan di Kabupaten Mojokerto juga tidak ada. Saat ini, posko untuk PMK hanya ada di kantor BPBD Kabupaten Mojokerto di Desa Jabon, Kecamatan Mojonyar serta Desa Seduri, Kabupaten Mojosari.

“Seharusnya diperlukan tambahan pos damkar. Seperti di Kecamatan Jetis, Kecamatan Trowulan, Kecamatan Gondang, Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas. Sehingga petugas tidak kesulitan menjangkau jika ada kebakaran di wilayah Dawarblandong atau Ngoro karena ada pos damkar terdekat yang bisa menjangkau ke lokasi kebakaran,” ujarnya.

Ditambah, tegas Zaini, ada keisengan oknum tak bertanggungjawab yang memberikan laporan kebakaran ke posko PMK. Petugas pernah mendapatkan laporan melalui sambungan telepon yang menyebutkan adanya kebakaran, namun saat petugas dengan cepat menuju lokasi ternyata tidak ada kebakaran. Sehingga ia pun meminta agar anggota untuk selalu menjaga kekompakan.

“Selain kasus kebakaran, di Kabupaten Mojokerto juga terjadi sejumlah bencana alam lainnya. Seperti pohon tumbang, angin kencang, tanggul atau plengsengan jebol dan banjir dengan total sebanyak 22 kasus. Dengan rincian pohon tumbang sebanyak 4 kasus, angin kencang 9 kasus, tanggul atau plengsengan jebol 2 kasus dan banjir 8 kasus,” jelasnya.

Dari sejumlah kasus bencana alam dan non alam tersebut, menurutnya kasus kebakaran masih bisa diantisipasi. Yakni dengan meminimalisir penggunaan material bangunan dari bahan kayu bisa mengurangi resiko kebakaran. Pihaknya juga menghimbau agar masyarakat tidak membakar sampah sembarang karena banyaknya kasus lebaran yang terjadi akibat pembakaran sampah di sekitar lokasi kebakaran.

“Dan jika terjadi kebakaran, masyarakat bisa menghubungi Pos PMK terdekat atau petugas TNI/Polri. Hati-hati dalam menambah sambungan listrik, jika memang harus menambah hendaknya dilakukan oleh petugas yang profesional begitu juga kompor gas agar cermat. Setiap kantor dan industri agar disiapkan appar dan setiap kantor atau industri gedung bertingkat agar disiapkan hydran dan pintu darurat,” himbaunya. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar