Peristiwa

Sengketa Tanah Tegalrejo Memanas, Pemkab Malang Harus Turun Tangan

Konflik agraria di Kabupaten Malang memanas, Sabtu (21/9/2019). Warga Desa Tegalrejo dan PTPN XII Pancursari, sama-sama dirugikan.

Malang (beritajatim.com) – Konflik agraria di Kabupaten Malang memanas, Sabtu (21/9/2019). Itu setelah ratusan warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, turun serentak ke tanah garapan mereka atas matinya puluhan hektar tanaman tebu.

Warga menuding ada oknum tak bertanggung jawab yang merusak tanaman tebu diatas tanah yang masih bersengketa. Tak tanggung-tanggung, 60 hektar tanaman tebu warga mati usai disemprot cairan roundup atau obat pembasmi rumput.

Sementara dari pihak PTPN XII Pancursari, mengaku rugi ratusan juta rupiah usai puluhan ribu bibit tanaman karet, juga mati setelah disemprot cairan roundup. Siapa pelaku perusakan tanaman tebu warga dan bibit karet milik PTPN XII? Belum diketahui.

Manager PTPN XII Pancursari, Hendro Prasetyo dihubungi beritajatim.com, Sabtu (21/9/2019) sore ini mengatakan, masih menggelar pertemuan dengan anggota. “Ya mas, kami masih diskusikan persoalan ini dengan kawan-kawan,” ungkap Hendro.

Hendro membenarkan kejadian yang mengakibatkan pihaknya harus menderita kerugian ratusan juta rupiah. Pasalnya, 54 ribu lebih bibit karet mati. Dikatakan Hendro, dengan dibedengnya puluhan ribu bibit karet ini rencananya akan ia tanam di areal seluas 73 hektar dengan tujuan untuk membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga Desa Tegalrejo.

“Kami sudah rencana untuk membuka lapangan pekerjaan baru mulai dari penyadapan dan pemeliharaan, yang kedepannya untuk warga Tegalrejo sendiri,” papar Hendro.

Informasi dilapangan menyebutkan, aksi warga desa hari ini dipicu atas sengketa lahan warga Desa Tegalrejo dan PTPN XII Pancursari. Dimana Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola PTPN XII seluas 1.300 hektar, warga menduga ada kelebihan HGU atau lebih dari 2.000 hektar.

Sehingga, warga menuntut agar BPN atau pihak Agraria untuk mengukur kembali keluasan HGU yang dikuasai PTPN XII. Puncak aksi warga desa Tegalrejo tak bisa dibendung setelah dalam seminggu terakhir, 60 hektar tanaman tebu milik warga Tegalrejo mati setelah disemprot obat pembasmi rumput.

“Aksi warga hari ini sebenarnya ingin menghalau agar tidak terjadi benturan. Karena dalam kasus ini berada pada tanah yang masih bersengketa. Warga merasa rugi karena tanaman tebunya mati setelah disemprot obat pembasmi rumput,” terang Mahrus Ali, Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PKB.

Mahrus Ali sendiri wakil rakyat dari dapil 3 meliputi Kecamatan Sumbermanjing Wetan. “Tebu yang mati tanamannya warga. Tapi berada dilahan yang masih sengketa dengan PTPN XII. Kami berharap dan mendesak pemerintah daerah segera turun tangan. Sehingga persoalan ini bisa cepat diselesaikan,” tegas Gus Mahrus sapaan akrabnya.

Kata Gus Mahrus, penyemprotan tanaman tebu milik warga oleh orang tidak dikenal, sudah terjadi dalam sepekan terakhir. “Warga sudah memperingatkan. Hari ini warga ingin menghalau agar jangan ada perusakan lagi,” bebernya.

Ia menambahkan, atas permasalahan ini, Pemkab Malang harus ikut turun tangan. Supaya persoalan sengketa tanah di Desa Tegalrejo, segera diselesaikan. “Pemkab harus turun. Mau mendengarkan apa yang menjadi aspirasi warga. Warga juga berharap harus ada pengukuran kembali. Kalau memang HGU yang dikelola PTPN XII Pancursari sesuai 1.300 hektar ya silahkan. Tapi kalau ternyata luas HGU setelah diukur lebih dari 1.300 hektar, harusnya diserahkan ke warga untuk dikelola,” Gus Mahrus mengakhiri. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar