Peristiwa

Sembuhkan Pasien Santet, Gus Idris Dikeroyok Dukun Hingga Tentara Dajjal

Malang (beritajatim.com) – Menjadi tameng bagi ribuan pasien korban santet dan ilmu hitam, nampaknya cukup beresiko bagi Gus Idris. Pria 30 tahun yang juga mengasuh Ponpes Thoriqul Janah di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, siap mengabdikan dirinya mengobati pasien non medis atas ulah mahkluk astral.

“Kalau ditanya sampai kapan saya akan menyembuhkan orang yang menjadi korban santet, ya selama saya mampu. Selama saya masih hidup atau ajal menjemput, saya akan obati secara spiritual,” tegas Gus Idris, Sabtu (11/7/2020) dini hari dikediamannya.

Karakteristik santet yang hinggap ditubuh seseorang, lanjut Gus Idris, punya tingkatan berbeda ketika proses penyembuhan dilakukan. “Kalau khodam yang masuk jumlahnya sedikit, proses penyembuhannya mungkin cukup cepat. Namun ada juga yang sampai berminggu-minggu. Kalau sudah seperti itu, biasanya jumlah khodamnya sangat banyak. Bisa mencapai ribuan,” beber Gus Idris.

Satu pasien yang kini dalam pengawasan dan penyembuhan Gus Idris di rumahnya di Desa Babadan, Ngajum adalah, dua orang perempuan. Satu orang berasal dari Kalimantan. Satu orang lagi dari Pulau Madura.

Kondisi perempuan asal Kalimantan ini, perutnya membesar. Sudah lebih dari satu bulan ia harus menginap di surau dikomplek Ponpes Thoriqul Janah. “Perutnya sangat besar. Sudah satu bulan disini. Kami harus menangani secara bertahap. Karena jumlah khodam atau jin yang masuk dalam raganya, lebih dari seribu jin. Kita hilangkan khadamnya secara perlahan,” ucapnya.

Gus Idris melanjutkan, untuk menyingkirkan gangguan metafisika dalam diri pasien, Gus Idris sampai harus bertarung secara gaib dengan ratusan dukun peneluh. “Dukun ini mainnya paling suka ya keroyokan. Ya sudah kita layani tantangan mereka. Kadang mediator kami sampai terbanting-banting ke lantai,” paparnya.

Gus Idris mengaku, seorang mediator, ia ambil dari para santri pilihan. Termasuk para dukun yang sudah bertobat dan mengabdikan dirinya untuk menolong sesama. “Mediator yang kita siapkan untuk melawan para khodam ini kita cek kesehatannya. Tidak boleh ada mediator yang punya riwayat sakit seperti jantung. Karena resiko seorang mediator sangat tinggi. Bisa jebol jantung dan organ tubuhnya apabila tidak siap menerima serangan gaib,” kata Gus Idris.

Selain bertarung dengan dukun, proses penyembuhan yang paling susah adalah ketika melawan ribuan jin. Saat di Pasuruan, Gus Idris bahkan harus bertempur dengan ratusan jin yang salah satu diantara mereka, tentara dari rajanya jin yakni Dajjal.

“Satu pasien kami sewaktu di Pasuruan, ternyata dia ngelmu. Mempelajari amalan-amalan dari internet. Karena tak kuat, khodam jin yang masuk salah satunya adalah tentaranya Dajjal. Tipikal jin dari pasukan Dajjal ini melukai dan membunuh. Mereka tahu dimana ada benda besi, langsung disambar dan coba ditusukkan. Mediator kami sampai merayap ke dinding,” kenang Gus Idris.

Menjadi musuh bersama dukun-dukun penganut ilmu hitam, membuat Gus Idris tak bisa berleha-leha. “Mereka ini (Para Dukun), tahu betul kelemahan kita. Kita diserang itu hampir sering. Kadang yang kena keluarga. Tapi Alhamdulillah, kami bisa membentenginya. Bahkan ada dukun yang menyaru pasien ke rumah, sambil membawa tanah kuburan. Itu pernah juga. Tapi selama tidak membahayakan kami ya kita biarkan saja,” ujar Gus Idris.

Dimata Gus Idris, khadam atau jin yang paling kuat selama ini adalah dari Timur Tengah. Terutama, Jin Laut Merah. “Jin laut merah ini sangat kuat dan liar. Tidak mudah menyembuhkan seseorang yang raganya sudah dikuasai jin Timur Tengah ini. Ada amalan dan asma khusus yang harus kita kuasai,” pungkasnya.

Sejumlah wilayah di Indonesia tempat para dukun bermukim, sudah pernah Gus Idris singgahi untuk bertempur secara gaib. Termasuk, dukun dari sejumlah negara di Singapura, Malaysia dan Hongkong. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar