Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Sejak Era Majapahit, Pohon Maja di Situs Makam Andongsari Tetap Lestari

Ziarah ke Situs Makam Andongan di Hari Jadi Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Bagi masyarakat Indonesia, maja bukanlah buah yang asing. Menurut legenda, buah inilah yang menjadi cikal bakal Majapahit, nama yang dipilih Raden Wijaya saat mendirikan kerajaan saat itu.

Konon, Raden Wijaya menemukan pohon maja yang sedang saat sedang membuka lahan (babat alas) di Tanah Tarik. Saat memakannya Raden Wijaya dibuat heran lantaran buah maja itu berasa pahit, padahal umumnya manis.

Singkat cerita, Raden Wijaya menyematkan nama Majapahit untuk kerajaan yang kelak menguasai Nusantara itu di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Buah maja yang dimaksud diyakini tumbuh di situs makam Dewi Andongsari yang terletak di Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Masyarakat setempat meyakini situs tersebut adalah makam Ibunda Gajah Mada.

Pohon maja yang tumbuh di situs tersebut juga dipercaya sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit berdiri. Hingga kini, pohon tersebut masih terawat dan berbuah.

Pohon itu memiliki ukuran lumayan besar dan menjulang tinggi. Kalau umumnya buah maja dikenal dengan rasanya yang manis, namun buah maja di kawasan ini berasa pahit.

Tak cukup itu, saat digelar acara ziarah di makam Dewi Andongsari yang masuk dalam rangkaian kegiatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-453 kali ini, buah maja yang memiliki nama latin Aegle Marmelos ini menjadi salah satu suguhan yang wajib dihidangkan di tempat tersebut.

“Pohon maja ini berada di depan situs makam Dewi Andongsari, Gunung Ratu ini. Hanya ada 1 pohon maja di Gunung Ratu dan hari-hari ini juga sedang berbuah,” kata aktivis budaya Lamongan, Rudi Herlambang, Rabu (25/5/2022).

Buah maja saat disuguhkan dalam kegiatan ziarah di makam Dewi Andongsari, rangkaian kegiatan HJL ke-453., di Ngimbang Lamongan.

Rudi menjelaskan, banyak orang menyamakan antara pohon maja ini dengan berenuk (calabash tree, huingo, krabasi, atau kalebas). Padahal, kata Rudi, kedua pohon ini dari jenis yang berbeda. Buah maja saat matang rasanya agak manis, sedangkan buah berenuk rasanya kurang enak di mulut.

Ciri lain yang membedakan antara maja dengan berenuk, Rudi menyebutkan, buah maja jika diremas akan mengeluarkan aroma khas jeruk-jerukan, sedangkan remasan daging dari buah berenuk aromanya tak sedap atau dalam istilah jawa disebut langu.

“Kalau pada umumnya buah maja itu manis, tapi yang di Gunung Ratu ini rasanya pahit seperti halnya buah maja yang konon menjadi cikal bakal nama kerajaan, yaitu Majapahit,” paparnya.

Perbedaan selanjutnya antara pohon maja dan berenuk, menurut Rudi, terletak pada bentuk daunnya. Daun buah Maja terdiri dari 3 anak daun yang membentuk seperti trisula dengan ukuran yang lebih kecil, sedangkan daun berenuk berbentuk tunggal dengan ukuran yang lebih lebar.

Lalu, dari ukuran buahnya juga tak sama. Ukuran buah maja paling besar sekitar 12 cm, berbeda dengan berenuk yang memiliki ukuran lebih besar, yang bisa mencapai hingga 25 cm.

“Pohon maja yang ada di situs Gunung Ratu itu sudah sejak lama berdiri dan tumbuh. Pohon ini dirawat oleh penduduk desa dan mungkin satu-satunya buah maja yang ada di Lamongan,” ungkapnya.

Secara terpisah, arkeolog dari BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho saat dihubungi juga mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya, pohon maja kerap disalahartikan dengan buah belenuk. Ia juga membenarkan bahwa pohon yang ada di situs Gunung Ratu itu memang pohon maja, dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Rudi.

“Kalau untuk lebih memudahkan, perbedaan antara maja dan belenuk adalah dilihat dari bentuk daun dan buahnya. Buah Maja lebih kecil dengan anak daun membentuk seperti sebuah trisula,” tuturnya.

Ia menambahkan, pohon maja dulunya memang banyak ditemukan pada situs-situs kuno yang berkaitan dengan masa kerajaan Majapahit. Sayangnya, banyak masyarakat yang tidak tahu fungsinya sehingga banyak pohon maja yang ditebangi.

Terkait situs Gunung Ratu, terang Wicaksono, dari temuan arkeologis yang ada di tempat ini kemungkinannya bisa jadi lokasi ini adalah peninggalan masa Majapahit.

Hal itu didukung dengan adanya temuan dimensi bata yang memiliki tebal hanya 5 cm, serta juga terdapat beberapa pecahan keramik di sekitar lokasi yang disinyalir berasal dari masa dinasti Yuan. “Di dekat lokasi ini dulu juga ditemukan sebuah prasasti yang dikenal dengan Sendangrejo,” jelasnya.

Meski begitu, Wicaksono mengaku kalau dirinya belum bisa memastikan apakah makam yang ada di Gunung Ratu ini adalah makam ibunda Gajah Mada seperti yang dipercayai oleh warga setempat. Hingga saat ini, bebernya, belum ada bukti arkeologis yang mendukung kuat akan hal tersebut.

Masih kata Wicaksono, semestinya kepercayaan masyarakat ini bisa diuji kebenarannya dengan mencari bukti-bukti pendukung secara arkeologis. “Gak ada (bukti arkeologis terkait makam ibunda Gajah Mada), yang harusnya bisa diuji kebenarannya dengan mencari bukti pendukung secara arkeologis,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan, situs makam Dewi Andongsari kini tengah dipugar. Dengan begitu, ia berharap, akan mampu menjadikan kawasan ini tak hanya sebagai wisata yang bernilai religi, namun juga mampu merepresentasikan sejarah kejayaan nusantara yang berhasil disatukan oleh Patih Gajahmada dalam naungan Majapahit.

“Tentu ini sebagai sebuah rekontruksi dari kejayaan nusantara pada saat-saat yang lalu, yang saat ini memang kami usahakan untuk terus kami rangkai, kami rekontruksi kejayaan-kejayaan itu. Dimulai dari peninggalan prasasti dan situs-situs jaman Kerajaan Majapahit, masa perkembangan agama Islam, kejayaan pada masa kolonial Belanda, serta peninggalan lainnya dari masa lampau yang terdapat di Kabupaten Lamongan ini,” terangnya. [riq/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar