Peristiwa

Segala Upaya Dilakukan, Banjir Tempuran Mojokerto Tak Kunjung Surut

Banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir luapan Sungai Avour Watudakon di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto memasuki hari ke-12. Meski sejumlah pihak terkait melakukan upaya penanggulangan, namun hingga kini belum ada tanda-tanda air banjir yang merendam 393 rumah warga akan surut.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), Kabupaten Mojokerto, Saiful Anam mengatakan, terkait banjir Tempuran, semua pihak ber’tempur’ kurangi risiko bencana. “Sejak tanggal 1 Januari 2021 lalu, air luapan Sungai Avour Watudakon merendam 393 rumah warga,” ungkapnya, Selasa (12/1/2021).

Masih kata Anam, luapan Sungai Avour Watudakon merendam ratusan rumah warga, tiga fasilitas umum (fasum) dan area persawahan milik warga. Hingga saat ini, air tidak menampakkan tanda-tanda akan surut. Justru sebaliknya, air semakin meninggi. Akibatnya, puluhan rumah penduduk tergenang air dengan ketinggian variasi sampai 80 cm.

“Tercatat ada 393 rumah warga desa Tempuran terendam dan 1.325 jiwa terdampak. Sebenarnya, upaya pengurangan risiko bencana sudah dilakukan oleh pihak terkait. BBWS sebagai pemangku kebijakan pengelolaan Sungai Avour Watudakon, sudah melakukan normalisasi. Tanggul sungai sudah ditinggikan, dasar sungai juga sudah dikeruk,” katanya.

Selain itu, lanjut Anam, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) juga membangun penyaring sampah. Penyaring sampah tersebut dibangun i sekitar 100 meter sebelum pintu DAM Sipon di Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Penyaring sampah tersebut bertujuan untuk menghentikan sampah-sampah agar tidak sampai di pintu DAM Sipon.

“Tahun lalu, sampah memang menyumbat pintu DAM Sipon sehingga proses pembersihannya harus ekstra hati-hati. Karena sekali saja ada personil yang jatuh di pintu DAM, maka risikonya badan akan masuk ke gorong-gorong dengan kedalaman lebih dari 250 m. Tentunya dengan deras air sungai yang begitu besar,” ujarnya.

Anam menjelaskan, tim relawan NU juga ikut berupaya membersihkan sampah dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang ada serta alat yang ada. Ada beberapa perubahan, saat ini pembersihan sampah dilakukan di penyaring yang baru saja dibangun dengan anggaran Rp10 milyar.

“Namun ternyata, bangunan penyaring itu menimbulkan masalah baru. Air Avour Sungai Watudakon tidak bisa lancar masuk ke DAN Sipon. Jangankan saat sampah menumpuk di penyaring, saat saringan itu bersih dari sampah pun, air kurang lancar mengalir. Secara kasat mata, elevasi air sebelum penyaring dan setelah penyaring selisih lebih dari satu meter,” paparnya.

Normalisasi sudah dilakukan, meski di sisi Jombang masih belum kelar, namun air masih belum bisa lancar mengalir. Sehingga saat terjadi hujan deras dan debit sungai meningkat mengakibatkan tergenangnya perkampungan warga. Hal lain yang turut menjadi sebab diantaranya curah hujan yang tinggi di wilayah sekitar hulu sampai hilir Avour Sungai Watudakon.

“Debit air memang meningkat signifikan, dan ini prediksi BMKG sudah disiarkan beberapa bulan lalu. Adanya fenomena Lanina yang berdampak di wilayah Indonesia fenomena ini berdampak pada meningkatnya curah hujan sampai 40 persen. Hal terpenting yang juga menjadi sebab banjir ini adalah kesadaran masyarakat yang masih rendah terkait buang sampah di sungai,” urainya.

Karena masih banyak ditemukan sampah rumah tangga begitu banyak tersaring di penyaringan. Selain itu, lanjut Anam, sampah kayu dengan diameter dan panjang yang bervariatif juga banyak ditemukan. Begitu juga dengan sampah bambu serta dipenuhi tanaman eceng gondok dan kangkung. Kedua tanaman itu yang benar-benar menjadi persoalan.

“Avour Sungai Watudakon dan beberapa anak sungainya, saat musim kemarau airnya relatif tenang sehingga pertumbuhan dan perkembangan eceng gondok dan kangkung sangat cepat. Di Avour Sungai Watudakon di saat ini, setiap hari puluhan dam truk lalu lalang membawa eceng gondok dan kangkung,” tuturnya.

Penanggulangan bencana adalah urusan bersama, baik pihak yang berwenang maupun yang tidak berwenang. Pemerintah, telah sejak awal sudah turun dan banyak hal yang terus dilakukan, baik oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto.

“Layanan Dapur Umum juga sudah beraktivitas sejak awal. Tagana Kabupaten Mojokerto dibantu unsur relawan setiap hari menyediakan nasi bungkus sebanyak 1.325 sekali masak. Donasi dari masyarakat juga sudah mulai berdatangan. Upaya masyarakat juga terus dilakukan yakni sedang mencoba membuka alat penyaring yang dinilai sebagai penghambat kelancaran air ke DAM Sipon,” urainya.

Menurutnya, dalam menanggani banjir di Desa Tempuran sinergitas berbagai unsur perlu ditingkatkan. Seperti tidak terlihatnya Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto sebagai wadah keterlibatan banyak unsur hampir tidak menampakkan diri. Potensi relawan yang ada berjalan ala kadarnya, sinergi dengan pihak-pihak yang bisa diajak sinergi.

“Ke depan potensi relawan diharapkan bisa dikoordinir dengan maksimal. FPRB, bisa menjadi medianya. Upaya PB harus benar-benar memperhatikan risiko-resiko yang bisa terjadi. Satu kesalahan kecil dalam melangkah, bisa fatal akibatnya. Terlebih pada pembangunan sarana fisik, pembangunan penyaring sampah di hilir Avour Sungai Watudakon, mungkin bisa dijadikan contoh,” jelasnya.

Selain itu, Anam menambahkan, kesadaran masyarakat dimana pun perlu ditingkatkan agar persoalan pembuangan sampah benar-benar diperhatikan. Dampak buruk buang sampah di sungai hampir tiap tahun dirasakan dan berujung banjir yang merendam pemukiman warga maupun fasilitas umum (fasum). [tin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar