Peristiwa

Sederet Kasus di PT CKS, Calon TKW Meninggal Dunia Hingga Celana Diturunkan

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani berbicara dengan calon TKW di PT CKS.

Malang(beritajatim.com) – Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengungkapkan sejumlah temuan di Balai Latihan Kerja (BLK) PT Central Karya Semesta (PT CKS) di Jalan Raya Rajasa, Bumiayu, Kota Malang. Di tempat ini 5 calon TKW kabur, melompat dari ketinggin 15 meter. 3 orang harus dioperasi karena mengalami luka serius. Sedangkan 2 orang lainnya kini dalam perlindungan polisi.

Benny mengatakan, beberapa waktu lalu dilaporkan ada calon TKW meninggal dunia di BLK PT CKS. BP2MI berharap laporan ini menjadi pintu masuk bagi polisi untuk mengusut tuntas segala jenis pelanggaran yang terjadi.

Karena berdasarkan informasi yang didapat, semua calon TKW yang berada di BLK PT CKS diminta untuk bungkam atas kematian ini. Sementara pihak manajemen PT CKS membantah kabar itu, dengan menyebut calon TKW meninggal karena sakit di rumah sakit.

“Ada peristiwa meninggal dunia, kesaksian rekannya meninggal di BLK dan bahkan di paksa banyak calon PMI untuk tutup mulut. Dan beberapa PMI sebelum peristiwa meninggal duni itu iuran Rp100 ribu – Rp50 ribu untuk membelikan obat. Artinya perusahaan tidak bertanggungjawab,” kata Benny.

Benny mengatakan, dia juga mendapat laporan calon pekerja migran di sana dibuat malu saat melakukan kesalahan. Seperti pelecehan seksual, dimana ada seorang calon TKW yang menggenakan celana pendek langsung diturunkan dihadapan rekan-rekan lainnya.

“Mereka menyampaikan, sering mengalami kekerasan verbal. Ada satu peristiwa, seorang calon PMI menggunakan celana pendek, hal itu memang tidak diperbolehkan di perusahaan itu. Ditegur boleh, tetapi pernah ada perlakukan tidak senonoh, jadi celananya langsung diturunkan dan disaksikan oleh banyak orang,” ujar Benny.

Selain itu, Benny menerangkan ada jenis pelanggaran berat lainnya. Seperti calon PMI di tempat ini dipekerjakan bukan semestinya. Padahal BLK tugasnya melatih bahasa dan keterampilan sesuai pekerjaan yang mereka pilih. Bukan mengambil keuntungan dengan memperkerjakan mereka di Balai Latihan seperti membersihkan lantai hingga memasak.

“Itu pelanggaran berat, BLK tugasnya menjadi sarana untuk penyelenggaraan pelatihan bahasa dan keterampilan. Keterampilan apa yang diajarkan, yaitu sesuai dengan sektor pekerjaan yang mereka pilih,” tandasnya. (luc/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar