Peristiwa

Sedekah Laut Pantai Ngliyep Malang di Tengah Pandemi Korona

Malang (beritajatim.com) – Geliat industri pariwisata di tengah Pandemi Covid-19 masih belum pulih betul. Hanya saja, seluruh pelaku industri pariwisata, tetap optimis. Bangkit bersama dan berharap pandemi virus korona, segera berakhir.

Inilah yang menjadi harapan Direktur Utama PD Jasa Yasa, Ahmad Fais Wildan, Senin (2/11/2020). PD Jasa Yasa adalah BUMD Pemerintah Kabupaten Malang yang membawahi sejumlah tempat wisata. Salah satunya, Wisata Pantai Balekambang dan Pantai Ngliyep.

“Kami semua berharap adanya gelar ritual sedekah laut bisa menjadi awal cerah membaiknya Industri pariwisata. Ini menjadi magnet dan Kami ingin pandemi cepat berakhir. Segala upaya kita lakukan. Salah satunya menerapkan protokol kesehatan secara ketat di area wisata pantai,” tegas Wildan sapaan akrabnya, Senin (2/11/2020).

Kata Wildan, protokol kesehatan itu meliputi, menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dilokasi wisata pantai. Termasuk, mewajibkan pengunjung untuk selalu menggunakan masker pelindung.

Terkait upacara Sedekah Laut di Pantai Ngliyep, sambung Wildan,  ritual tersebut bukan bermakna sesembahan. Namun sebagai wujud tanda syukur kepada Allah SWT dengan cara memegang teguh tradisi Jawa khususnya masyarakat lokal di sekitar Pantai Ngliyep, yang dwariskan leluhur.

“Saya berdoa semoga negeri ini aman. Karena Ngliyep ini juga salah satu lokasi inspirasi bagi Bung Karno di dalam meneropong Indonesia untuk masa selanjutnya,” papar Wildan.

Wildan mengungkapkan, ritual tradisi labuhan ini selalu diadakan pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Kegiatan ini adalah bentuk hormat Kami terhadap Nabi Muhammad dengan adat Jawa,” ucapnya.

Terkait pandemi korona, lanjut Wildan, pihaknya mengibaratkan kondisinya mirip orang sedang menyelam. Seorang penyelam, harus kuat nafas selama ia menyelam dalam air.

“Ini fase kuat-kuatan nafas di waktu menyelam. Kita harus tetap berikhtiar, kita harus optimis dan yakin bisa eksis di tengah pandemi. Semoga pandemi cepat berakhir dan Kita bisa meningkatkan omset kunjungan wisatawan,” papar Wildan.

Sebagai bentuk syukur, kata Wildan, tradisi labuhan atau sedekah laut di Pantai Ngliyep ini, sudah dilakukan  turun temurun oleh masyarakat Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, atas anugerah kemakmuran dari Allah SWT.

Tradisi Labuhan sendiri, banyak menyedot pengunjung dan dihadiri dipadati ratusan masyarakat desa setempat pada Sabtu (31/10/2020) lalu.

Prosesi Labuhan atau Sedekah Laut, dimulai dengan mengusung ubo rampe ke pulau Kumbang yang berada di bibir pantai  ngliyep. Selanjutnya, dilakukan ritual sesuai tradisi adat hingga melemparkan sesaji ke tengah laut.

“Jika di pantai Balekambang menurut sejarah merupakan wilayah penyebaran kerajaan Islam, sementara Pantai Ngliyep merupakan sejarah penyebaran Kerajaan Mentaraman,” tutur Wildan.

Wildan menjelaskan, bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur. “Makanya tradisinya seperti ritual umat Hindu ya, kendati hal ini gak mengurangi esensi dari makna labuhan itu sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wildan menambahkan, bahwa tradisi Labuhan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.  Kehadiran ratusan pengunjung yang melihat ritual labuhan itu sendiri, merupakan permulaan positif terhadap kunjungan wisata di pantai Ngliyep.

Wildan memperkirakan, kehadiran ratusan pengunjung di pantai Ngliyep masih jauh dari ekspektasi PD Jasa Yasa selama pandemi Covid-19 tahun ini.

“Kita realistis ya, karena ada batasan 50 persen pengunjung wisata, ya harus Kita ikuti. Karena ini juga bagian prokes Covid-19, tetap berpengaruh juga terhadap kunjungan wisata,” pungkasnya.

Diakhir kata, Wildan berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Sehingga, industri pariwisata di Kabupaten Malang, bisa berangsur pulih dan kembali menggeliat. (yog/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar