Peristiwa

Sayur Organik ITS Penuhi Nutrisi Masyarakat Selama Pandemi Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah menjalankan imbauan social distancing pada masa pandemi Covid-19, setiap orang tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bernutrisi agar badan bisa tetap sehat dengan kecukupan vitamin dan mineral. Menyadari hal ini, kebun Sayur Organik (SayOr) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam program Eco Urban Farming di Unit Pengembangan Smart Eco Campus tetap melakukan produksi guna memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.

Eco Urban Farming sendiri merupakan program yang sudah dijalankan ITS sejak tahun 2014 lalu. Program ini dijalankan dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada di ITS untuk lahan pertanian secara organik. Yaitu budi daya pertanian yang mengandalkan bahan alami di alam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida dan pupuk kimia.

Ketua Unit Pengembangan Smart Eco Campus ITS, Susi Agustina Wilujeng menerangkan, bahwa selama masa pandemi ini kebun SayOr ITS tetap dirawat dan digarap oleh tiga pekerja harian lepas ITS. “Semenjak work from home ini mereka tetap bekerja, karena sayang sekali lahannya bisa terbengkalai jika tidak ditanami dan dipanen rutin,” jelasnya.

Setelah sayuran tersebut dipanen, lanjutnya, sayuran akan dikemas kemudian diumumkan kepada pelanggan melalui grup chat Whatsapp, yang saat ini sudah beranggotakan 250 orang lebih. Untuk pelanggan yang tinggal di lingkungan ITS, sayuran bisa diantar langsung ke rumah-rumah dan atau dapat disimpan dan dibeli di K1-mart milik Koperasi Pegawai ITS. “Setelah dipanen, jam 10 (pagi) saya umumkan dan pelanggan bisa langsung pesan,” terang dosen Teknik Lingkungan ITS ini.

Susi mengaku, setelah diterapkannya work from home, SayOr hasil panen selalu habis terjual dalam kisaran waktu 30 menit setelah diumumkan. Berbeda dari biasanya yang kadang masih sisa dan dijual di K1-Mart. SayOr yang dijual juga bervariasi, namun mayoritas berupa sayuran seperti sawi, bayam hijau, kacang panjang, bayam merah, daun gedi, kenikir, daun gedi, gambas pakcoy, dan kangkung, serta ada juga ketela pohon dan pisang.

“Saat ini tidak mudah mendapatkan sayur organik dengan harga terjangkau, apalagi dengan harus tetap di rumah, pilihan berbelanja juga terbatas. Testimoni dari pelanggan juga bilang kalau sayur organik ini enak rasanya, mudah dimasak serta awet kesegarannya dibanding sayuran yang terpapar bahan kimia,” ungkapnya.

Selama ini, tambah Susi, pelanggan yang membeli produk dari kebun SayOr bervariasi, ada yang bukan sivitas akademika ITS. Namun setelah masa pandemi akibat adanya lockdown di kampus ITS, pembeli sementara ini diutamakan yang tinggal di lingkungan ITS. “Kalo orang luar, kasihan ambilnya karena harus ke K1-mart di dalam kampus, jadi yang beli hanya yang di lingkungan ITS atau dosen tendik yang piket kerja ke kampus sehingga bisa ambil di K1-mart,” tambahnya.

Eco Urban Farming ITS ini sendiri, selain digunakan untuk produksi tanaman sayur-sayuran organik juga digunakan sebagai lokasi penelitian mahasiswa ITS terutama mahasiswa Departemen Biologi. “Setiap tahun selalu ada, rata-rata ada lima penelitian yang menggunakan lahan Urban Farming sebagai lokasi penelitiannya,” papar Susi.

Dosen berkacamata ini juga menambahkan bahwa ke depannya Urban Farming akan lebih mengoptimalkan lahan agar produksi dapat maksimal. Juga akan dilakukan berbagai perbaikan seperti perbaikan rumah kaca yang ada di lahan tersebut. “Kita juga akan melakukan peremajaan beberapa jenis tanaman rambat,” pungkasnya. [kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar