Peristiwa

Sawah Tercemar Limbah Pabrik Susu Sapi, Petani Wadul DPRD Kabupaten Malang

Malang (beritajatim.com) – Puluhan perwakilan petani di Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, wadul ke DPRD setempat, Senin (9/3/2020).

Hal itu akibat lahan pertanian di desa tersebut, diduga tercemari limbah cair dari pabrik pengolahan susu sapi besar di Ngajum.  Terungkap saat para petani yang tergabung dalam kelompok tani, Margotani 1 Kesamben, mendatangi Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Malang.

Ketua Kelompok Tani Margotani 1 Kesamben, Matori menyampaikan jika dampak dari pembuangan limbah Pabrik susu sapi ini sudah dirasakan petani selama 4 tahun terakhir.

“Sebenarnya masalah ini sudah lama. Para petani sangat dirugikan. Kita sudah beberapa kali pertemuan, baik dengan Muspika, pihak Greenfields itu sendiri dan dinas terkait. Kalau Muspika, pasti sangat paham masalah ini. Jawaban dari Greenfields sampai sekarang juga tidak ada,” kata Matori saat ditemui di ruang rapat Komisi III DPRD Kabupaten Malang, Senin (9/3/2020).

Matori menjelaskan, limbah dari pabrik pengolahan susu sapi itu dibuang ke Sungai Gesang. Sungai Gesang sendiri, katanya, merupakan tumpuan irigasi para petani di Kesamben.

“Kan disana ada dua DAM. DAM 1 itu untuk mengaliri sekitar 54 hektar lahan pertanian, sementara DAM 2 itu untuk 87 hektar. Gara-gara aliran limbah itu, sekarang banyak petani yang dulunya nanam padi, pindah ke tebu. Kalau dibilang rugi ya sangat rugi, kalau padi kan setahun bisa tiga sampai empat kali panen, sekarang tidak bisa. Dulu satu hektar itu bisa sampai 50 ton per tahun, tapi sekarang sudah jauh dibawah itu,” ujarnya.

Hal sama juga dibeberkan Wakil Ketua Kelompok Tani Margotani 1 Kesamben, Sunarto. Kata Sunarto, limbah tersebut membawa dampak yang sangat signifikan terhadap tanaman pertanian mereka.

“Ya saya tahu itu, buang (limbah) itu waktu malam hari, biasanya malam Jumat itu tengah malam. Dari segi tumbuhan itu bagus memang awalnya, tapi saat mau panen itu hancur. Dampak ke tanaman padi itu memang jadi besar-besar, tapi bulirnya tidak keluar. Ikan saja sampai ada yang mati gara-gara limbah itu,” jelas Sunarto.

Sunarto menyebut, pihak perusahaan susu sapi  dan sejumlah ahli telah melakukan peninjauan di lokasi terdampak limbah tersebut. Namun, tidak ada tindaklanjut yang berarti di kemudian hari.

“Sekarang banyak yang gagal panen itu. Itu dulu banyak yang melakukan survei, dari pabrik sendiri termasuk ahli itu. Mereka mengukur tanah, Ph tanahnya. Dulu katanya kelebihan unsur N, tidak boleh pakai pupuk Urea. Kita sudah lakukan, tapi tidak ada hasilnya. Dari Dinas Lingkungan Hidup juga sebenarnya sudah tahu. Dulu saya diminta inventarisir kerugian petani itu berapa. Pabrik susu tersebut sebenarnya sudah mengakui dampaknya seperti apa, mereka tidak bisa mengelak, tapi belum ada ganti rugi,” tegasnya.

Sunarto mengaku, jika persoalan ini tidak ditanggapi dengan serius oleh pihak-pihak terkait, para petani di Kesamben berencana melakukan aksi unjuk rasa.

“Ya sangat marah sebenarnya. Sebenarnya dari dulu ada rencana demo, tapi kan ada istilah orang Jawa, kalau bisa dirundingkan kenapa kita mau rame-rame. Tapi kalau nanti tidak ada solusi, ya kita demo. Petani itu kan cuma satu, tidak mau basa-basi. Kalau kita ingin ketemu pimpinan (Greenfields), kita ingin tahu, maunya apa?,” tegas Sunarto.

Sementara itu, menanggapi keluhan petani itu, anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang, Zia Ulhaq menambahkan, pihaknya bakal mengakomodir aduan petani tersebut. Zia menyebut, Komisi III dalam waktu dekat akan memanggil pihak Greenfields dan dinas-dinas terkait.

“Kita akan undang mereka, Greenfields dan dinas terkait. Greenfields ini bukan pabrik kecil, mereka juga punya slogan harus ramah lingkungan. Tapi kalau ada masalah seperti ini kan memang harus kita panggil. Entah nanti kita rapat atau datangi langsung kesana, intinya dewan akan memfasilitasi,” pungkas Zia, politisi Partai Gerindra ini. (yog/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar