Peristiwa

Pasca Bom Surabaya

Satu Tahun Berlalu Bom Surabaya, Ini Kabar Pendeta GPPS Arjuno Sebagai Saksi Mata

Surabaya (beritajatim.com) – Peristiwa ledakan bom di tiga Gereja di Surabaya jelas tak mungkin hilang dalam ingatan, saat itu umat kristiani melakukan ibadah minggu (13/5/2019). Tiba-tiba tepat pukul 07.30 tiga gereja di Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan GPPS Arjuna menjadi sasaran teroris.

Trauma mungkin sebagian korban masih membekas, bahkan cerita masih teringat jelas di pikiran. Namun satu tahun berlalu banyak cerita yang tersirat dari para korban, salah satunya Frans Neman, Pendeta Gereja GPPS Arjuna ini masih ingat peristiwa itu terjadi.

Ketika itu ia sedang melayani umat di GPPS Arjuna,Lalu ia bertahan untuk mendengarkan pengumuman gereja, tapi karena pengumumannya sedikit lama jadi ia memutuskan keluar. Lali tak selang lama ia berjalan ledakan terjadi.

“Saat itu saya habis melakukan pelayanan dan mau berpindah tempat ke gereja saya tapi saya menahan diri karena ada pengumuman, berhubung pengumumannya sedikit lama saya memutuskan untuk keluar lalu tak selang lama saya berjalan terjadi ledakan,” cerita Frans Neman.

Kini satu tahun berlalu, beruntung pendeta berusia 75 tahun ini masih dalam kondisi yang baik dan sehat. Dan tidak memiliki trauma yang cukup dalam pasca bom.

Ia berharap tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini lagi di kota Surabaya maupun yang lain.

“Kondisi saya saat ini baik saja, tidak ada trauma pasca bom. Namun di satu tahun ini saya berharap Surabaya tetap menjadi kota yang aman dan tentram tidak ada lagi peristiwa bom dan selalu dalam lindungan tuhan,” ucap pendeta yang berdomisili di Kedung Doro, Surabaya ini.

Peristiwa naas itu memang mengejutkan banyak warga dan pihak, dinahkodai oleh salah satu keluarga ledakan itu terjadi di tiga titik di kota Surabaya dan dua titik di Sidoarjo. [way/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar