Peristiwa

Pesantren Ramadan

Santri Digembleng Tujuh Strategi Kebudayaan

Lamongan (beritajatim.com) – Lembaga Kajian Seni Budaya dan Ke-Islaman Lamongan (Legian) bekerjasama dengan Lesbumi MWC NU Solokuro Lamongan menggelar Pesantren Ramadan Islam Nusantara (Pramistara) ke 2, di PP (Pondok Pesantren) Miftahul Ulum Desa Solokuro Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan.

Kegiatan tersebut mengambil tema “Islam Nusantara sebagai Landasan Ideologi Generasi Millenial di Era Digital,” yang dilaksanakan selama tiga hari. Acara tersebut diikuti 23 peserta pilihan dari beberapa daerah, di antaranya Gresik, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban. Kegiatan ini gratis, peserta tak dipungut biaya.

Ketua pelaksana, Khusnul Khuluq (20) mengatakan, Pramistara ke-2 ini dilaksanakan sebagai bentuk komitmen untuk meneguhkan Islam Nusantara An-Nahdliyah serta membumikan Saptawikrama (7 Strategi kebudayaan) di Lamongan.

“Dengan adanya Pramistara, peserta digembleng selama tiga hari oleh para narasumber sehingga mampu menjadikan Islam Nusantara sebagai ideologinya dalam menjawab tantangan di era digital,” ujar Khuluq, Jumat (30/4/2021).

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Ajengan Didin Zainuddin, dari PP (Pengurus Pusat) Lesbumi NU menyampaikan bahwa Pramistara itu ide dan gagasannya dari K. Ng. Agus Sunyoto dalam rangka meneruskan perjuangan KH. Wahid Hasyim.

Didin juga menyebutkan, Saptawikrama itu terdiri dari; pertama menghimpun dan mengonsolidasi gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara. Kemudian kedua, mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

Selanjutnya ketiga, membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan, Keempat, menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.

Kelima menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.

“Lalu keenam, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara. Dan terakhir atau ketujuh, mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global,” ungkapnya.

Hari ini, Didin menambahkan, generasi millenial khususnya santri, harus mampu beradaptasi di era digital. “Santri harus memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai dakwah dalam rangka meneguhkan Islam Nusantara. Santri harus beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak melulu hanya belajar agama, tapi juga harus belajar ilmu umum, termasuk isu politik global,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PC Ansor Lamongan, M Masyhur, M.Pd, yang juga narasumber dalam kegiatan tersebut menegaskan, santri harus bisa menguasai media agar tidak terbelenggu dan ketinggalan zaman.
“Dengan tidak bisa menguasai media, maka akan dengan mudahnya bangsa lain menguasai kita dan melakukan propaganda,” tegasnya

Masyhur juga mengingatkan kepada para peserta untuk lebih bijak dalam memilih guru, tentunya yang sesuai dengan faham Aswaja An-Nahdliyah.

M. Rifqi Khowas, peserta Pramistara asal Kabupaten Bojonegoro mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. Dia juga berharap Pramistara terus diadakan tiap tahun. “Alhamdulillah, senang. Bisa menambah wawasan tentang keaswajaan dan Islam Nusantara, juga menambah seduluran. Semoga tahun depan diadakan lagi,” harapnya. [riq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar