Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Said Abdullah Bantu Warga Kurang Mampu di Pamekasan

Ketua Said Abdullah Institute (SAI), Taufadi (kanan) dan Sekretaris DPC PDI Pamekasan, Nadi Mulyadi (kiri) menyerahkan bantuan dari MH Said Abdullah kepada warga Desa Jambaringan, Proppo, Pamekasan, Sabtu (4/9/2021).

Pamekasan (beritajatim.com) – Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura, MH Said Abdullah memberikan bantuan sebasar Rp 10 juta plus paket sembako kepada keluarga Umamah (26) warga Desa Jambaringin, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Sabtu (4/9/2021).

Bantuan yang disalurkan melalui Said Abdullah Institute (SAI) dan PDIP Pamekasan, dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus inisiatif Said Abdullah untuk selalu membantu meringankan beban masyarakat di Madura. Tidak terkecuali warga kabupaten Pamekasan.

Pemberian bantuan tersebut berawal dari kegiatan PDIP Pamekasan, yakni membagikan nasi kotak bagi warga terdampak pandemi Coronavirus Disease 2019 sejak beberapa hari terakhir. Selanjutnya terdapat gambar dokumentasi yang mengetuk hati seorang Said Abdullah.

“Awalnya Pak Said (sapaan akrab Said Abdullah) melihat foto dokumentasi bagi-bagi nasi kotak di Pamekasan, beliau menanyakan kondisi salah satu keluarga yang menarik perhatian dan akhirnya tergugah untuk membantu keluarga ini,” kata Sekretaris DPC PDIP Pamekasan, Nadi Mulyadi.

Proses penyerahan bantuan untuk keluarga kecil dengan dua anak berusia 8 tahun dan 9 bulan, dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris DPC PDIP Pamekasan, Nadi Mulyadi bersama Ketua SAI, Taufadi. “Hal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Said Abdullah, beliau ingin membantu merindukan beban hidup keluarga ini,” ungkapnya.

“Selain itu, Pak Said juga menitipkan salam untuk disampaikan kepada penerima bantuan. Beliau berpesan agar bantuan yang diberikan dimanfaatkan sesuai kebutuhan, sehingga dapat meringankan beban keluarga penerima bantuan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, biaya hidup Umamah bersama dua orang anaknya ditanggung sang suami, Malut (31) yang bekerja sebagai pemulung atau pencari barang bekas. “Penghasilan sang suami sebagai pemulung di daerah rantau tidak menentu, biasanya setiap setengah bulan sekali dikirim uang sebesar Rp 200 ribu,” jelasnya.

“Namun kondisi saat (pandemi Covid-19) ini yang tidak lagi normal, justru seringkali tidak mendapat uang. Bahkan sang suami biasa pulang kampung saat ada keperluan tertentu, semisal hari raya atau kepentingan keluarga, seperti mantenan atau keluarga meninggal,” sambung Nadi.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap hari, Umamah bersama kedua anaknya bergantung hidup kepada sang ibu yang kesehariannya berjualan katul di Pasar Proppo. “Dari itu, bantuan sebesar Rp 10 juta dan sembako diharapkan dapat meringankan beban keluarga Bu Umamah,” pungkasnya. [pin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar