Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Rusak Parah, Pengurukan di Jalan Pucangro Lamongan Dinilai Tak Tepat dan Perburuk Keadaan

Lamongan (beritajatim.com) – Akibat banjir langganan yang merendam jalan poros Sukodadi-Paciran, tepatnya di Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, tak kunjung diurus dengan baik. Kini, jalan tersebut pun harus mengalami kerusakan yang cukup parah.

Bahkan, saking parahnya, banyak pengguna jalan yang tergelincir dan terperosok lantaran banyaknya lubang besar di jalan yang terendam air. Belum lagi, bebatuan yang berserakan di sepanjang jalan ini juga sangat mengganggu ramainya pengguna jalan yang berlalulalang.

Tak cukup itu, para warga yang melintasi jalan ini pun semakin dibuat geram. Pasalnya, saat Pemerintah Kabupaten Lamongan melakukan pengurukan di jalan tersebut, hal itu justru dianggap semakin memperburuk keadaan.

Alih-alih ingin memperbaiki jalan melalui pengurukan, yang terjadi malah banyak pengguna jalan yang kendaraannya terjerembab di lumpur uruk tersebut, sehingga kemacetan pun tak terelakkan. Warga menilai, jika pengurukan ini dilakukan di saat yang kurang tepat.

Saat ini, kondisi jalan Pucangro ini dipasang plang dari bambu agar tak diterobos oleh pengguna jalan. Sehingga hanya diberlakukan satu lajur saja dan warga yang dari arah selatan dan utara harus secara bergantian melewatinya.

“Prosesnya setelah diuruk kita padatkan dengan tandem vibro dulu, kemudian dikeringkan kurang lebih 2 sampai 3 hari baru bisa dilewati,” ujar Sujarwo, Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Lamongan, saat dihubungi wartawan, Jumat (28/1/2022).

Karena menunggu dikeringkan dulu, Sujarwo menyebut, bahwa pengurukan agregat ini dilakukan sebagai upaya penanganan darurat agar jalan tak semakin parah.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada para pengguna jalan agar tak melintas lebih dulu di lajur yang belum kering pengurukannya. “Lah, kemarin baru diuruk langsung dilewati, ya hancur. Masyarakat sudah dilarang masih saja nyerobot,” tukasnya.

Sujarwo berharap, kepada masyarakat agar sabar dulu dan menunggu pengurukan kering. “Ya tetap sabar mengikuti arahan petugas. Kalau belum boleh dilewati ya jangan menerobos, supaya pekerjaan darurat bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Matholiul Anwar Simo, Desa Sungelebak, Karanggeneng, Syaifullah Abid menilai, jika pengurukan tersebut dilakukan tanpa disertai study kelayakan terhadap bahan uruk. Bahkan menurutnya, dampak yang ditimbulkan sangat fatal.

“Menurut saya, penanggung jawab proyek tersebut melakukan pengurukan tanpa study kelayakan terhadap material bahan uruk. Padahal, dampak pengurukan ini juga sangat fatal bagi ribuan siswa yang sekolah di sebelah utara urukan,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Abid tersebut.

Tak hanya itu, Gus Abid juga menyesalkan terkait kondisi pengurukan yang saat ini menjadi kubangan lumpur, pasalnya banjir masih menggenangi jalan, sehingga semakin memperburuk keadaan dan menciptakan persoalan baru.

“Lho, terus buat apa diuruk kalau untuk diplang? Setahu saya, urukan ngelinet ya ngelinet. Ditunggu berapa hari pun tetap ngelinet, kecuali debit air surut. Bahan urukannya pun kualitasnya kurang baik,” paparnya.

Sekadar diketahui, dari data yang diserap di Dinas PU Bina Marga Lamongan pada 24 Januari 2022, diperoleh informasi bahwa tahun ini akan dilakukan peningkatan jalan dengan konstruksi CBC atau cor beton, di ruas jalan Desa Pucangro yang rusak parah akibat banjir tersebut.

Selain itu, ruas jalan ini akan ditinggikan dengan urugan sirtu/agregat A, yang pelaksanaannya bakal direalisasikan di bulan Maret-April mendatang. Sedangkan untuk saat ini masih proses melengkapi dokumen yang kemudian dilanjutkan proses lelang.

Lalu, mengenai jumlah anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan ruas jalan Pucangro tersebut yakni senilai Rp 4,8 miliar. Dengan panjang jalan yang dibangun kurang lebih 1,2 kilometer.

Di sisi lain, Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Lamongan sebelumnya juga telah memasang rambu tanda bahaya di sejumlah titik jalan poros Desa Pucangro, 25 Januari 2022. Mereka beralasan, jika hal itu dilakukan demi mencegah timbulnya kecelakaan di kawasan setempat.

Tak tanggung-tanggung, saat itu Forum LLAJ juga menyebut, akan memberlakukan sistem satu arah untuk mengurai kemacetan yang terjadi di kawasan ini. Sistem ini diberlakukan bagi pengguna jalan yang melintas dari arah selatan menuju ke utara.

Sementara yang dari arah utara menuju ke selatan, dialihkan ke jalan alternatif, yakni melalui Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng menuju ke Kecamatan Maduran, kemudian ke arah Pucuk.

Lebih jauh, ruas jalan poros yang ada di Desa Pucangro ini sempat menjadi lokasi aksi ‘angon bebek’ pemuda Lamongan. Aksi ‘angon bebek’ ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kekecewaan mereka terhadap lambannya pemerintah dalam mengatasi banjir.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar