Peristiwa

RSUD Kota Mojokerto Minta Maaf dan Kembalikan Uang Rp 3 Juta

Direktur RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Sugeng Mulyadi

Mojokerto (beritajatim.com) – Pihak RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto mengakui ada kesalahan di personal Kepala Kamar Jenazah terkait pemungutan biaya pemulasaran jenazah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19.

Pihak Rumah Sakit (RS) milik Pemkot Mojokerto tersebut sudah meminta maaf dan mengembalikan uang sebesar Rp 3 juta tersebut.

Direktur RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Sugeng Mulyadi mengatakan, ada miss komunikasi (kesalapahaman) dalam penanganan Covid-19.

“Masalah yang ramai adalah masalah uang, jadi karena Surat Edaran Permenkes tanggal 6 April 2020, sosialisasi kita kebawah ada yang tahu, ada yang tidak tahu,” ungkapnya, Jumat (22/5/2020).

Masih kata dr Sugeng, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 238 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Klaim Pembiayaan, yang ditandatangani pada tanggal 6 April 2020.

Kementrian Kesehatan akan melakukan penjaminan pembiayaan Orang Dalam Pemantauan (ODP) di atas 60 tahun, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan positif Covid-19.

“Dulu pasien Kota Mojokerto meninggal maka tanggungjawab RSU, dari luar tidak ada MoU. Kadang-kadang mengalahi, kita yang urus karena tidak bisa diklaim dari kita. Setelah ada SE harusnya bisa diklaim tidak peduli warga mana. Kesalahan di personal Kepala Kamar Jenazah yang tidak paham tapi pagi sudah koordinasi untuk mengembalikan,” katanya.

Menurutnya, setelah pihak kamar jenazah menyampaikan ke manajemen dan memang aturannya harus dikembalikan karena uang tersebut hak pasien. Pihak RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo berniat akan mengembalikan uang tersebut kepada keluarga pasien  pada, Rabu (20/5/2020) kemarin, namun pihak keluarga pasien setelah dihubungi dan ditunggu tak kunjung datang.

“Missnya itu sebenarnya harus meluruskan aturan baru, anak ini (pihak kamar jenazah, red) masih menerapkan aturan lama. Sudah tadi pagi dikembalikan karena sekalian memberi pengertian soal Covid-19 terhadap keluarganya karena memang dicurigai meski belum swab, jadi hari ini keluarga di rapid test difasilitasi RSU. Jadi kemarin itu saling nunggu dan akhirnya mledos itu (video viral di medsos, red),” jelasnya.

dr Sugeng menuturkan, selain meminta maaf dan mengembalikan uang tersebut, pihak RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto juga meminta agar pihak keluarga pasien melakukan rapid test yang difasilitasi RSU. Ada empat orang yang dilakukan rapid test yang merupakan satu keluarga dengan pasien yakni istri, anak dan menantu serta cucu.

“Ini satu rumah. Jemput bola mendatangkan kesini keluarganya untuk rapid test meskipun swab terhadap pasien belum diambil. Meski non reaktif tapi pasien masuk PDP karena klinis secara laboratorium. Menghilangkan stigma di masyarakat juga, kita harus back up karena interaksi dengan keluarga tanggung jawab kita,” tegasnya.

dr Sugeng menambahkan, pasien sebelumnya datang salah satu Rumah Sakit (RS) swasta di Kota Mojokerto dengan keluhan diabetes pada tanggal 18 Mei 2020. Awalnya, periksa tapi pasien harus rawat inap menurut klinis ada kelainan paru. Pihak RS mencurigai ada hubungan dengan Covid-19, keluarga tidak sreg karena  belum diperiksa tapi sudah dicurigai Covid-19.

“Pasien kemudian dirujuk ke RSU pada tanggal 19 malam kemudian dilakukan rapid test dan hasilnya non reaktif. Tetapi kondisi memang ada pneumonia (paru-paru basah). Pukul 18.00 WIB kondisi jelek dan meninggal belum sempat diambil sampel swab. Rencana swab hari Rabu pagi tapi keburu pasien meninggal,” pungkasnya.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar