Peristiwa

RSTKA Unair Jadi Tim Medis Penyelamat Kedua di Mamuju Sulbar

Surabaya (beritajatim.com) – Kapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) berangkat ke Mamuju Sulawesi Barat, Minggu (17/1/2021). Berangkatnya RSTKA milik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (FK Unair) dan Ikatan Alumni (IKA FK) ini merupakan bentuk aksi kemanusiaan Peduli Gempa Sulbar.

Kapal berisikan 1 nahkoda, 5 anak buah kapal (abk), 1 dokter spesialis bedah (dr Agus Harianto) dan tim lainnya 3 orang. Serta 1 dokter spesialis anestesi (dr Christijogo Sumartono) sebagai tim acu yang berangkat lebih dulu menggunakan pesawat sampai Balikpapan dan dilanjutkan menggunakan kapal feri menuju Mamuju.

Untuk itu pihak FK Unair membantu dan berkoordinasi untuk mencukupi jumlah tenaga medis yang dibutuhkan. Prof Budi Santoso, Sp OG, selaku Dekan FK Unair memberikan guide line atau arahan terkait berangkatnya RSTKA menuju Mamuju.

“Kita punya Unit Bencana dan RSTKA yang berangkat subuh tadi ke Sulbar. Mereka berangkat dengan 1 nahkoda, 5 anak buah kapal, 1 dokter spesialis bedah, dan tim lainnya 3 orang dengan kapal. 1 orang dokter anestesi, dr Christijogo Sumarto sebagai tim acu akan datang terlebih dahulu untuk memantau situasi di sana,” ujar Prof Budi kepada beritajatim.com.

Tim acu yang dipimpin oleh dr Christijogo inilah nantinya yang akan memberikan instruksi berapa banyak dokter dan tenaga medis dari FK Unair yang dibutuhkan untuk aksi kemanusiaan Peduli Gempa Sulbar. Prof Budi menyebut bahwa saat ini di Mamuju dan Majene, telah tangani sekitar 12 orang dokter spesialis orthopedi dari Universitas Hassanudin (Unhas).

“Karena kalau dalam kasus gempa begini memang yang paling banyak dibutuhkan adalah dokter orthopedi dan dokter bedah. Terlebih lagi dalam penanganan bencana, 1 minggu saja disana dokter dokter itu sudah capai karena banyaknya korban yang harus ditangani. Jadi nanti dari FK setidaknya akan menerjunkan tim medis sebagai tim ke dua setelah Unhas. Biar bisa gantian begitu,” terang Prof Budi.

Saat ini penanganan korban gempa Sulbar dilakukan oleh dokter-dokter dari Universitas Hassanudin (Unhas). Hingga per Sabtu (16/1/2021) terdapat 12 dokter orthopedi dan 4 dokter anastesi dari Unhas dan telah menangani 8 kasus orthopedi.

Prof Budi menyebut, info terakhir per Sabtu malam (16/1), di Mamuju sebagai berikut; 42 kematian, 189 trauma berat, 687 trauma ringan, 15.000 pengungsi. Terkait tenaga medis yang akan diberangkatkan ke Mamuju, Prof Budi mengatakan akan menunggu kabar terkini dari tim aku yang akan datang terlebih dahulu ke Mamuju.

“Berapa tenaga yang dibutuhkan insya Allah kami siap. Tapi untuk jumlah pasti kami menunggu informasi terkini dari dr Christijogo sebagai tim acu, terlebih lagi kami akan mengoptimalkan jumlah tenaga medis yang ada agar meminimalisir bahaya di saat pandemi,” ujar Prof Budi.

Saat ini tim medis yang disiapkan FK Unair sebanyak 2 dokter bedah, 2 dokter orthopedi, 2 dokter anastesi, 4 dokter umum, 2 apoteker, 2 perawat anastesi, 4 perawat bedah, 4 perawat umum, dan 4 tenaga administrasi.

Aksi kemanusiaan Peduli Gempa Sulbar rencananya akan dilangsungkan hingga 2 minggu terhitung setelah kru tenaga medis tiba dan bisa diperpanjang sesuai situasi. Selama di Mamuju, RSTKA berfokus pada penanganan medis korban gempa dan trauma healing untuk anak anak, serta berusaha membantu pemulihan sektor ekonomi. [adg/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar