Peristiwa

Rindu Supriono pada Keluarga ‘Tersangkut’ di Ruang Karantina

Petugas di Posko Covid sedang memeriksa suhu tubuh Supriono dan keluarganya, Rabu (15/4/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Dua lembar kasur busa menghampar di lantai ruang perpustakaan SDN Kebonagung, Kecamatan Ploso, Jombang. Supriono (42) bersama istri dan anaknya tiduran santai di kasur tersebut. Di depannya, televisi tabung ukuran 14 inchi menyala di atas meja.

Hanya televisi itulah yang menjadi hiburan Supriono berikut keluarganya selama menjalani masa karantina 14 hari. “Ya bosan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Aturannya seperti ini. Saya sudah empat hari di ruang karantina,” kata Supriono sembari menunduk, Rabu (15/4/2020).

Supriono datang ke kampung halamnnya untuk bertemu dengan keluarga. Namun upaya untuk melepas dahaga kerinduan itu harus tertahan sementara waktu. Dia tidak boleh langsung bertemu dengan keluarganya. Karena harus menjalani masa karantina selama 14 hari.

Itu karena pemerintah desa setempat menerapkan aturan seperti itu. Pemudik yang masuk ke Kebonagung harus ditampung di ruang karantina. Tujuannya, untuk memutus rantai penyebaran virus corona atau Covid-19. Supriono tak bisa berbuat banyak. Ia tahan dulu rasa rindunya kepada keluarga. Masa karantina sebagai gantinya.

Supriono berkisah, dia datang dari Makassar pada Minggu (12/4/2020). Pria berusia 42 tahun ini juga mengajak istrinya Rodiyah dan sang anak Novita. Sebelum pulang, Supriono dihajar dilema. Pulang kampung susah, tidak pulang kampung makin susah.

Betapa tidak, sejak merebak wabah corona, usahanya bertambah sepi. Jalan-jalan di kota banyak yang tutup. Para pelanggan bakso enggan keluar rumah. Kondisi yang serba sulit itulah yang akhirnya memaksa bapak dua anak ini kembali ke tanah kelahiran.

Dia kemudian menghubungi keluarganya. Namun kabar di kampung juga setali tiga uang. Supriono dan keluarganya tak bisa langsung bertemu keluarga. “Akhirnya saya memilih kembali ke kampung halaman, meski harus menjalani karantina. Karena di Makassar juga sepi. Tidak bisa jualan,” urai Supriono sembari membetulkan letak maskernya.

Salah satu jalan di Desa Kebonagung ditutup total

Begitu tiba di kampung halaman, Supriono langsung menjalani pemeriksaan. Suhu badannya dicek menggunakan thermo gun oleh petugas. Begitu juga dengan istri dan anaknya. Sejak itu keluarga yang sudah 15 tahun merantau di Makassar ini menghabiskan waktu di ruangan berukuran 5 x 7 meter tersebut.

Untuk mengusir rasa jenuh, Supriono dan keluarga melakukan olahraga ringan. Setiap pagi, mereka lari-lari ringan mengelilingi lapangan sekolah. Jika sudah capek, Supriono berjemur di bawah terik mentari. Puas berolahraga, dia kembali ke ruangannya. “Kalau soal makan, dikirimi oleh keluarga. Ya setiap hari seperti ini kegiatannya. Bosan juga sebenarnya,” kata Supriono mengulang.

Saat Supriono sedang mengusir rasa bosan dengan menonton televisi, Kepala Dusun Bakalan, Desa Kebonagung Lilis Novitasanti (46) sibuk menuliskan laporan di Posko Covid-19. Dia mencatat hasil pemeriksaan kesehatan tiga orang yang sedang menjalani karantina.

“Setiap hari kita periksa suhu tubuh mereka menggunakan thermo gun. Hasilnya, kita laporkan ke Puskesmas. Alhamdulillah, semuanya normal. Kesehatan keluarga Supriono bagus. Suhu tubuhnya 36 derjat celsius,” kata Lilis yang hari itu kebagian piket di Posko.

SDN Kebonagung yang dijadikan lokasi karantina bagi pemudik

Lilis menjelaskan, selama ruang karantina dibuka, keluarga Supriono adalah penghuni pertama. Mereka masuk ruang karantina pada Minggu (12/4/2020). Sejak itu, petugas piket melakukan pemantauan. Mulai pemeriksaan suhu tubuh, hingga menyemprot ruang karantina menggunakan cairan disinfektan tiap tiga hari sekali.

“Kami tidak mau kecolongan. Ada tiga titik jalan yang kita tutup total. Hanya ada satu akses jalan masuk desa. Selebihnya kita ‘lockdown’. Untuk penyemprotan tingkat desa, kita lakukan satu minggu sekali. Semua itu untuk memutus rantai penyebaran corona,” ujar Lilis.

Kabupaten Jombang masuk zona merah Covid-19. Itu setelah ada tujuh orang terkonfirmasi positif virus corona. Dari jumlah tersebut, satu orang berada di Kecamatan Ploso. Otomatis, wilayah kecamatan yang berada di utara Sungai Brantas ini juga menjadi zona merah corona. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar