Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Ricuh Sengketa Lahan di Margomulyo Surabaya, Polisi Melerai 2 Pihak

Ketegangan sempat terjadi di Jalan Margomulyo Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Berbekal putusan Mahkamah Agung (MA) yang sudah berkekuatan hukum tetap, ahli waris Nanang Agung Widodo mendatangi lahan di Margomuluo nomer 59, Sabtu (21/8/2021) pagi tadi.

Dengan pengawalan ketat dari pihak keluarga, ahli waris meminta pada penghuni lahan di Jalan Margomulyo nomer 59 itu untuk meninggalkan tempat. Tak terkecuali sebuah warung yang ada di dalam lokasi.

Ketegangan sempat terjadi saat sejumlah orang yang ada di tempat tersebut tidak bersedia beranjak. Namun akhirnya, sejumlah orang dari pihak ahli waris berhasil memaksa mereka untuk meninggalkan lokasi.

Dari pantauan di lapangan, ahli waris dan sejumlah orang serta Kapolsek Asemrowo Kompol Harry masih berada di lokasi. Diskusi alot sempat terjadi antara ahli waris dengan pihak kepolisian.

Namun, insiden kembali terjadi saat ahli waris dan pihak kepolisian sedang melakukan diskusi. Tiba-tiba sekelompok orang melemparkan batu ke area lokasi yang membuat ahli waris dan aparat kepolisian kaget dan berhamburan. Namun, insiden tersebut berhasil ditenangkan.

Juru bicara dari pihak ahli waris yakni Bambang menyatakan bahwa pihaknya mendatangi lokasi adalah untuk memperjuankan kebenaran dan hak daripada ahli waris yang sudah memenangkan putusan sampai pada tingkat Mahkamah Agung (MA) yang sudah berkekuatan hukum tetap.

“ Awalnya lahan milik ahli waris ini dikuasai oleh PT TT dan telah berakhir tahun 2011 dan telah kembali ke tanah negara atau dalam penguasaan pemegang hak milik yaitu sesuai putusan PTUN 163/G/2013/PTUN.Sby kembali ke atas nama Soebowo pemilik letter C No 368 persil 44 kelas D III,” ujar Bambang saat di lokasi lahan.

Ketegangan sempat terjadi di Jalan Margomulyo Surabaya

Lebih lanjut Bambang menyatakan bahwa dasar hukum kepemilikan atas lahan tersebut tidak hanya putusan PTUN nomer 163/G/2013/PTUN.Sby namun juga putusan No 140/G/2014/PTUNSurabaya yang menyatakan bahwa PT TT  bukan pemilik lagi tapi bekas pemegang hak bangunan sehingga perbuatan hukum yang dilakukan PT TT yang mengalihkan hak atas tanah kepada H Mu’minin tidak berdasarkan hukum.

Masih menurut Bambang, langkah ini terpaksa mereka lakukan karena pihak yang dianggap tak memiliki legalitas ini masih mbalelo tidak bersedia meninggalkan lokasi. Padahal beberapa kali sudah diperingatkan oleh pihak ahli waris.

“Bayangkan sudah 11 tahun mereka kuasai, karena SHGB yang mereka miliki sudah habis sejak tahun 2011,” tegasnya.

Sementara Kapolsek Asemrowo Kompol Harry menyatakan pihaknya akan menjaga lokasi agar tidak terjadi insiden antara kedua belah pihak yang mengklaim menguasai lahan tersebut.

“ Jadi lahan ini ditempati oleh sekelompok orang yang sudah menempati tempat ini, namun disisi lain ada ahli waris yang memiliki legalitas yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap namun belum bisa dilakukan eksekusi. Nah, kita melakukan penjagaan agar tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan antara masing-masing kelompo,” ujarnya.

Sampai saat ini, pantauan di lapangan sejumlah orang masih tampak berada di lokasi seluas 59.180 meter persegi tersebut. [uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar