Peristiwa

Rawat Cucu Lumpuh, Kakek Nenek Jualan Balon di Tepi Jalan

Mbah Trimo (75) dan sang istri Monah (69) bersama Dinda (11) cucunya saat berjualan balon di tepi jalan

Kediri (beritajatim.com) – Demi bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19, seorang kakek dan nenek di Kabupaten Kediri berjualan balon di pinggir jalan. Selain untuk makan sehari-hari, uang yang dikumpulkan untuk biaya berobat cucu tercinta.

Perjuangan hidup ini dilakoni oleh Mbah Trimo (75) dan sang istri Monah (69) warga Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Di usia rentanya, sepasang suami istri ini nekat berpanas-panasan di tepi jalan demi menjajakan balon jualannya.

Ditemui di lapak jualannya, Mbah Trimo tampak berpanas-panasan untuk menata dagangannya. Sedangkan sang istri tengah menyuapi cucunya Dinda (11) yang divonis lumpuh sejak kecil. “Sejak kecil Dinda kami asuh. Orang tuanya telah bercerai. Saat kecil anak ini normal, bisa jalan. Tetapi kemudian diasuh oleh ibunya. Jadi begini,” kata Mbah Monah, Kamis (25/2/2021).


Kedua orang tua Dinda telah bercerai saat sang bocah berumur 3 tahun. Ia lantas dititipkan sang ayah yang merantau ke luar pulau kepada kakek dan neneknya. Sejak saat itulah, Trimo dan Monah terus merawat Dinda sang cucu dengan segala keterbatasan ekonomi yang dialaminya.

Sebelum pandemi, Trimo bekerja sebagai buruh serabutan. Namun, akibat adanya krisis ekonomi akibat bencana Nasional korona, ia pun akhirnya kehilangan pekerjaannya. “Kalau dulu ya ada saja yang membutuhkan tenaga saja. Tetapi setahun terakhir ini menganggur. Akhirnya saya jualan ini,” kata Mbah Trimo.

Kini, bapak empat orang anak memilih berjualan balon yang hasilnya tidak menentu demi memenuhi semua kebutuhan hidup. Bahkan pernah dalam satu hari, balon jualannya tidak ada yang laku sama sekali. “Sehari hari ya ada saja orang yang beli. Keuntungannya paling ya Rp 10-20 ribu. Untuk makan sehari hari,” aku Mbah Trimo.

Tidak hanya itu, bangunan rumah yang dihuni Trimo dan Monah merupakan milik desa. Mereka terpaksa menumpang di tanah desa, setelah rumah mereka dijual oleh sang anak yang pergi.

Terhadap penderitaan kakek-nenek ini, pihak Desa Sukoanyar terus berupaya memberikan bantuan. Mulai dari BPNT, PKH hingga pemberian izin guna lahan untuk didirikan rumah bagi Trimo dan cucunya.

“Kami selalu mengusahakan warga yang kesulitan termasuk Mbah Trimo. Kami upayakan berbagai bantuan baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Bahkan, kita persilahkan untuk menempati lahan milik desa untuk dihuni,” ujar Mulyani, Kepala Desa Sukoanyar.

Diakui Mulyani bangunan rumah Mbah Trimo jauh dari kata kayak. Sementara pihaknya tidak bisa mengupayakan renovasi pembangunan karena bukan lahan milik pribadi.

“Untuk bantuan rumah tidak layak huni satu syarat utamanya adalah lahan tersebut milik pribadi. Sedangkan ini lahan milik desa. Tetapi terlepas dari itu, kami tetap membantu Mbah Trimo,” jelasnya.

Di tengah segala keterbatasan ekonomi itu, Trimo tetap bersyukur, karena masih diberikan kesehatan oleh Tuhan. Sehingga ia masih sanggup untuk mencari nafkah bagi istrinya dan sang cucu yang lumpuh.

Bagi Trimo, sang cucu Dinda merupakan titipan Tuhan yang harus ia jaga dan rawat dengan segenap kasih sayang. Ia juga terus menabung, demi biaya berobat sang cucu tercinta.

Kondisi Mbah Trimo dengan istri dan cucunya ini membuat semuanya iba, tak terkecuali para tetangga. Tak heran apabila warga sekitar kerap memberi uluran tangan kepada mereka.

“Setelah mereka berjualan balon di tepi jalan itu, banyak warga akhirnya berhenti. Mereka iba melihat anaknya yang disabilitas itu. Kemudian memberi bantuan. Selain itu, tetangga sekitar juga banyak yang memberi,” kata Karti, warga sekitar. [nm/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar