Peristiwa

Ratusan Jemaah Umrah dari Malang Tunda Keberangkatan ke Tanah Suci

Biro perjalanan umroh dan haji plus Agung Wisata tunda keberangkatan jemaah umroh.

Malang (beritajatim.com) – Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menutup kembali akses penerbangan dari 20 negara termasuk Indonesia. Demi meminimalisir penularan Covid-19. Dampak dari kebijakan ini ratusan jemaah umrah dari Malang gagal berangkat ibadah di Tanah Suci.

Biro perjalanan umrah dan haji plus Agung Wisata Kota Malang misalnya. Mereka terpaksa melakukan reschedule atau penjadwalan ulang akibat kebijakan yang dikeluarkan pada 3 Februari 2021 kemarin oleh otoritas Arab Saudi. Jemaah umroh yang sedianya berangkat dalam kurun waktu beberapa hari ke depan terpaksa ditunda.

Direktur biro perjalanan umroh dan haji plus Agung Wisata, Hamzah Yusuf mengatakan, kebijakan yang dibuat oleh otoritas setempat memang berlaku untuk 14 hari. Namun, kebijakan Arab Saudi sering berubah-ubah mendadak. Sehingga solusi terbaik untuk jemaah adalah penjadwalan ulang sampai situasi di Arab Saudi pasti.

“Kebijakan larangan masuk ke Arab Saudi tentunya berdampak tidak baik bagi kami. Meski kebijakan untuk diberlakukan untuk 14 hari ke depan, kami jadi ragu untuk memberangkatkan jemaah, sehingga terpaksa kami re-schedule. Sebab kebijakan Arab Saudi juga terkadang berubah-ubah dan mendadak,” kata Hamzah Yusuf, Kamis (4/2/2021).

Selama pandemi Covid-19 biro perjalanan haji dan umrah Agung Wisata tidak memberangkatkan jemaah umrah maupun haji plus. Hampir satu tahun mereka tidak menjalankan bisnisnya. Mereka terakhir memberangkatkan jemaah pada 27 Februari 2020 lalu. Meski hampir setahun tidak memberangkatkan jemaah, sampai saat ini masih ada warga Malang yang mendaftar sebanyak 150 orang.

Di 2021 ini, rencananya, mereka akan memberangkatkan jemaah umrah pada 1 Maret 2021 mendatang. Sebanyak, 300 jemaah umrah telah masuk dalam daftar tunggu keberangkaran ke Arab Saudi melalui biro perjalanan haji dan umrah ini.

“Jika diberangkatkan pun dalam kondisi pandemi ini tidak bisa banyak orang, jadi harus bertahap. Kalau kondisi normal tiap rombongan bisa diisi 150-200 orang, tetapi di masa pandemi hanya 20-40an orang,” tutur Hamzah Yusuf. [luc/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar