Peristiwa

Rapid Test 18 Warga Negatif, Perumahan di Jember Ini Jadi Kampung Tangguh

Hasil Rapid Test Covid-19, Ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Hasil uji cepat (rapid test) 18 orang warga Perumahan Mastrip, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menunjukkan hasil negatif. Perumahan ini menjadi salah satu kampung tangguh.

“Alhamdulillah, warga yang kemarin diisolasi mulai 22 Mei sudah pulang semua dan dinyatakan negatif (dari Covid-19). Tidak ada yang tersisa di rumah sakit. Hanya persoalan administrasi yang membuat datangnya tidak sama,” kata Abdul Kholik, Ketua Rukun Warga 018 Perumahan Mastrip, Lingkungan Gumuk Kerang, Selasa (2/6/2020) malam.

Sebelumnya, 24 orang warga perumahan itu menjalani uji cepat dan hasilnya reaktif. Sebanyak 18 orang di antaranya langsung dikirim ke rumah sakit untuk menjalani perawatan dan dikarantina. Sementara enam orang lainnya dikarantina mandiri di rumah.

Rencananya, hari ini akan ada uji cepat massal, termasuk enam orang warga yang dikarantina mandiri di rumah masing-masing. “Tapi tidak ada penjemputan ke rumah sakit. Kalau memang ada yang reaktif, ya kami obati di rumah dengan karantina mandiri. Mudah-mudahan hasilnya negatif semua,” kata Kholik.

Warga tetap akan memberlakukan pembatasan sosial dalam skala tertentu. “Kami di Mastrip membentuk kampung tangguh yang dipelopori Kepolisian Resor Jember dan Kepolisian Daerah Jawa Timur. Jadi semua pakai physical distancing,” kata Kholik.

“Kampung tangguh adalah kampung yang kemarin merah, harapannya cepat menjadi hijau. Jadi protap terkait Covid-19 diterapkan semuanya. Meski kemarin sudah, kini kami tingkatkan lagi,” kata Kholik.

Foto ilustrasi

Perum Mastrip memiliki posko kesehatan di RW 018 yang akan menangani warga yang sakit. “Kebetulan di Perumahan Mastrip banyak dokter umum dan dokter gigi,” kata Kholik.

Selain itu, akan ada lumbung pangan hasil gotong royong masyarakat untuk membantu warga yang terkena dampak Covid-19. “Minimal mereka tidak kekurangan makan,” kata Kholik. Lumbung tersebut diletakkan di salah satu ruangan balai RW 018 dan diisi sembako.

Kholik mencontohkan kejadian saat salah satu warga dikarantina. “Otomatis keluarganya juga dikarantina di rumah, sehingga semua kebutuhan disuplai tetangga baik sayur-mayur maupun makanan siap saji, serta kebutuhan rumah tangga lainnya seperti air. Dikoordinatori ketua RT masing-masing,” katanya.

Sementara orang luar yang masuk ke perumahan untuk mengirim barang atau bertamu harus meninggalkan KTP dan diberi waktu maksimal 30 menit. “Tidak boleh ada yang menginap,” kata Kholik.

Mahasiswa penghuni rumah kontrakan jika nanti datang saat tahun ajaran baru akan diminta menunjukkan hasil rapid test atau surat keterangan sehat dari Puskesmas Sumbersari. “Nanti akan ada karantina di rumah sendiri,” kata Kholik. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar