Peristiwa

Ramadan, Ketua TP3 Kabupaten Kediri Salat Malam Bersama Ratusan Warga

Kediri (beritajatim.com) – Bulan suci Ramadan dimanfaatkan oleh ratusan warga Kabupaten Kediri, Jawa Timur untuk melakukan ibadah salat sepertiga malam di halaman Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 Tarokan. Kegiatan rutin ini diinisasi oleh Ketua Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3) Kabupaten Kediri, Ir. H. Sutrisno.

“Para alim ulama, khususnya Bapak KH. Lukman Hakim, saudara Kepala Kementerian Agama Kabupaten Kediri, kepala sekolah dan para guru, Camat beserta Muspika, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Tarokan, kepala desa, perangkat desa, tamu undangan dan hadirin jamaah salat malam yang berbahagia. Pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT). Kita sangat bersyukur pada malam hari ini Insya Allah kita nanti menjalankan salat tahajud. Semoga apa yang kita lakukan pada malam hari ini bermanfaat dunia sampai akhirat,” kata Sutrisno mengawali sambutannya, Rabu (15/5/2019) dini hari.

“Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya. Pada malam hari ini, saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih bisa diberi kesempatan mengajak panjenengan sedoyo salat dengan hati yang bersih. Kita seharusnya bersyukur sudah diundang untuk mengikuti salat tajahud. Karena apabila tidak diundang ke sini, malam ini kita tidak salat tahajud mala mini,” terusnya.

Menurut suami Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno ini, dirinya mengingatkan semua warga untuk salat malam. Mengajak warga untuk mendekat kepada Allah SWT. Karena menurutnya, Allah memberikan kesehatan dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya.

“Jadi manusia itu diberi sehat, gunakan sehatmu untuk mengajak mendekat dengan Allah. Gunakan untuk menolong agama Allah. Jangan sampai merasa sehat karena olahraga, karena pergi ke dokter. Tetapi sehat karena diberi Allah. Maka, kita harus memperjuangkan perintah Allah. Yang punya kekuasaan, juga untuk Allah. Saya mengucapkan ini pada bulan suci, jangan sampai justru ucapan saya tidak sama dengan hati saya, sehingga menodai puasa saya, menodai bulan suci Ramadan, apabila itu menipu dan berkhianat terhadap kebenaran,” bebernya.

“Alhamdulillah, Bupatinya masih keluarga saya. Jadi saya masih bisa mengajak semuanya untuk salat malam. Saya mengajak untuk urusan Allah, urusan agama Allah. Jangan hanya berfikir duniawi. Saya mengingatkan kepada perangkat desa, kepala sekolah, agar menggunakan jabatannya untuk mengajak kebaikan,” tambahnya.

Sutrisno mengajak semuanya bersama-sama untuk salat malam karena Allah. Mendorong orang lain untuk mengikuti jejaknya menjalankan ibadah salat malam. “Seharusnya rebutan dalam berlomba-lomba memberikan hartanya, pikirannya untuk Agama Allah. Jangan seperti orang yang menulis di internet, apa di Facebook dan di Instagram itu, ada yang bilang tahajud kok ditarik sarapan (baca : ibadah kok diminta menyediakan sarapan). Berarti, orang yang bilang seperti ini tidak mengerti agama. Kita seharusnya berlomba-lomba untuk kelangan, kok malah diwalik (baca : memberikan harta untuk agama, bukan maknanya dibalik),” imbuh Sutrisno.

Mantan Bupati Kediri ini mengingatkan masyarakat untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Kemudian, dalam bersedekah tidak dipamerkan. Karena bisa menghilangkan pahala dari kebaikan bersedekah tersebut. Dirinya banyak melihat orang yang bersedekah justru menjadi ibadah riya’ karena dipamer-pamerkan kepada orang lain.

“Sedekah kepada orang lain, kepada siapapun tidak perlu ditunjukkan kepada orang. Itu nggak perlu. Tetapi zaman sekarang, orang membantu orang lain, malah difoto dipamerkan, ya Allah mugo-mugo diparingi mudeng (baca : mengerti) bahwa segala sesuatu, berbuat sesuatu karena Allah. Tetapi, manusia itu kadang-kadang tidak terlepas dari ada embel-embel duniawi, tapi itu bukan persoalan yang primer, itu bukan persoalan yang utama. Persoalan utamanya adalah, perbuatan segala sesuatu harus ikhlas karena Allah,” tambahnya.

Sutrisno mengaku, menjalankan salat sepertiga malam tersebut secara rutin selama kurang lebih 15 tahun. Sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Kediri, Sutrisno sudah berkeliling desa-desa, kecamatan untuk menggelar ibadah sunnah tersebut. Bahkan, ia menyebut sudah beberapa kali mengadakan di wilayah Kecamatan Tarokan ini.

“Harapan kita, supaya setelah kegiatan salat ini, bisa membentuk jamaah-jamaah tahajud di tingkat kecamatan, di tingkat desa, dan lingkungannya masing-masing. Kemudian bisa satu minggu sekali mengadakan kegiatan ini. Sebagai bekal untuk menghadap Allah kelak,” tutupnya.

Setelah sambutan dari Sutrisno, kemudian dilanjutkan dengan salat malam. Sebagai imam salat adalah KH. Lukman Hakim. Jamaah tampak khusyuk dalam menjalankan ibadah. Salat dimulai pukul 02.00 WIB. Antara lain, salat tasbih, salat taubah, salat tahajud dan salat hajat.

Firman, salah satu jamaah salat mengaku, mengikuti salat malam untuk mendapatkan berkah, khususnya di bulan suci Ramadan. Dirinya menjalankan salat malam berjamaah bersama dengan orang tuanya. “Semoga ibadah yang kita laksanakan ini mendapatkan pahala dari Allah. Apalagi di bulan Ramadan ini, Allah menjanjikan pahala yang berlibat setiap kita menjalankan ibadah,” kata Firman. [nng].

Apa Reaksi Anda?

Komentar