Peristiwa

PWI Jatim Beri Penghargaan Kepada Wartawan Senior Gresik

Ketua PWI Jatim Ainur Rohim (kedua dari kanan) memberikan penghargaan kepada Abdul Wachid (80) didampingi pengurus PWI Gresik Sholahudin dan Hardy, Sabtu (25/1/2020).

Gresik (beritajatim.com)- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur memberikan penghargaan terhadap wartawan senior Gresik, Abdul Wachid (80). Pemberian penghargaan itu dalam rangka rangkaian memperingati Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020.

Sosok Abdul Wachid, memang tidak asing bagi wartawan yang bertugas di Gresik. Jurnalis yang dikenal dengan kode nama AW itu, sudah banyak melalang buana di berbagai daerah.

Sebelum menjalani masa tuanya, Abdul Wachid pernah berkecimpung di sejumlah harian surat kabar. Mulai dari Harian Suara Indonesia di Malang, Jawa Pos, Bisnis Indonesia dan Majalah Liberti.

“Semangat wartawan senior Abdul Wachid ini bisa dijadikan motivasi bagi wartawan di zaman sekarang. Bayangkan di usia 80 tahun masih bergelut di media,” ujar Ketua PWI Jatim Ainur Rohim, Sabtu (25/01/2020).

Masih menurut Ainur Rohim, penghargaan terhadap wartawan senior sebelumnya juga dilakukan di daerah Jember, Sumenep, Sidoarjao dan lain-lain. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap wartawan senior atas dedikasinya dalam kemerdekaan pers.

“Setelah di Gresik kami akan road show lagi di daerah di Jawa Timur untuk memberikan apresiasi kepada wartawan senior,” ungkapnya.

Sementara itu, Abdul Wachid saat ditemui di kediamannya banyak bercerita nostalgia saat jadi wartawan yang terbit di Kota Malang mulai tahun 1967 hingga 1974. Dengan gaji sebesar Rp 11 per bulan. Gaji sebesar itu dipakai untuk mengeksplore (liputan) di daerah.

“Dulu kalau menulis berita menggunakan mesin ketik. Selanjutnya, dikirim lewat faksimile sebelum masuk editing,” paparnya.

Ia menambahkan, selain menulis berita. Dirinya, juga selalu membawa kamera untuk hunting kejadian. Dengan mengenakan kamera tersebut. Setiap ada kejadian terkini, tidak luput dari bidikannya.

“Ada keunikan tersendiri kalau mengabaikan kejadian dengan kamera. Pernah di satu daerah daya membidik foto orang bersepeda sambil berlawanan arah. Yang satu mengadap kedepan yang dibonceng menghadap ke belakang. Ini kan peristiwa langka kalau zaman saya dulu,” katanya.

Tidak hanya itu, dirinya juga pernah mengeksplore kopiah ‘Awing’ yang saat ini menjadi langganan pejabat.

“Dulunya di Awing itu sepi cuma masyarakat saja yang membeli. Namun, saat saya eksplore dan dikirim ke harian bisnis nasional di Jakarta. Kopiah Awing jadi terkenal dimana-mana,” ujar Abdul Wachid sambil tersenyum. (dny/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar