Peristiwa

Puluhan Warga di Mojokerto Keluarkan Paksa Alat Berat dari Lokasi Galian C

Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan warga Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto mengeluarkan paksa alat berat yang ada di lokasi galian C yang berupa area persawahan. Aksi warga yang sempat memanas ini merupakan bentuk penolakan warga terhadap penambangan tersebut.

Warga menilai, dampak dari penambangan di lokasi tersebut akan merusak lingkungan dan mengganggu pekerjaan pembuatan batu bata. Pasalnya, selain sebagai petani, sebagian warga sekitar merupakan pengrajin batu bata yang menjadi mata pencarian warga.

Warga langsung mengusir sopir dan mengeluarkan paksa alat berat dari lokasi galian yang diduga belum mengantongi izin tersebut. Pasalnya, lokasi yang rencana dijadikan penambangan tersebut merupakan area persawahan milik warga sekitar yang sebagian masih menolak.

Kepala Dusun (Kadus) Sawoan, Desa Sawo, Mad Sholeh mengatakan, warga menggelar aksi tersebut dipicu karena warga kesal adanya alat berat yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. “Ada izin, tidak ada tidak tahu. Keberadaannya mengganggu pekerjaan pembuatan batu bata sebagai mata pencarian warga,” ungkapnya, Kamis (19/3/2020).

Masih kata Sholeh, pihaknya mengaku kaget tiba-tiba ada alat berat di lokasi. Diduga alat berat tersebut didatangkan saat malam hari sehingga warga tidak tahu. Menurutnya, warga tidak dilibatkan saat pemilik menjual sawah tersebut yang akan digunakan sebagai lokasi galian C.

Kepala Desa (Kades) Sawo, Nur Kholis mengatakan, aksi warga tersebut dilakukan karena menolak adanya galian di desa mereka sehingga warga mengusir alat berat yang tiba-tiba saja masuk di area persawahan. “Saya sendiri tidak tahu, alat berat ini masuk kapan? Informasinya malam datangnya,” katanya.

Lokasi yang rencana akan di gali merupakan area persawahan milik warga sekitar yang sebagian masih menolak area tanahnya digali. Sebelumnya, lanjut Kades, sudah ada musyawarah dengan pihak penambang, namun belum ada kesepakatan sehingga sebagian warga masih ada yang menolak dan ada yang menerima.

“Ini masih membuka jalan belum sampai melakukan aktifitas, terus ketahuan oleh warga kemudian di usir oleh warga yang tidak menghendaki adanya galian. Rencananya 5 hektar luasnya. Kalau dulu izin ke masyarakat yang bersangkutan, BPD sudah boleh tapi sekarang kan beda,” ujarnya.

Menurutnya, terkait izin pihaknya tidak tahu karena izin langsung ke Pemprov Jawa Timur. Pihak desa sebenarnya tidak menutup adanya investor masuk ke desa mereka, termasuk adanya galian. Namun dengan syarat masyarakat kondusif dan bisa menerima.

Menghindari adanya konflik berkepanjangan petugas kepolisian dari Polsek Kutorejo yang datang ke lokasi langsung melakukan negosiasi dengan masyarakat. Tak hanya melakukan negosiasi, pihak kepolisian juga mengamankan alat berat yang di protes oleh warga.

“Untuk tidak lanjut kita serahkan langsung ke Polres Mojokerto, soal izin maupun alat berat. Aksi ini dilakukan warga karena menolak adanya galian di desa mereka,” tegas Kapolsek Kutorejo, AKP Hery Susanto.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar