Peristiwa

Protes Bansos, Zainuri Demo Tunggal ke Kantor Desa

Jombang (beritajatim.com) – Poster bernada kecaman mengalung di leher Zainuri. Poster tersebut hampir menutupi tubuhnya yang terbalut kaus dan sarung. Selembar masker juga menutupi mulut dan hidungnya. Semua semakin klop dengan kacamata dan topi rimba yang dikenakan Zainuri.

Memang Zainuri tidak berdandan seperti biasanya. Penampilannya dibuat lain. Selanjutnya, dia berjalan kaki dari rumahnya menuju balai desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang, Senin (5/7/2020). Zainuri hendak menyampaikan protes ke kantor desa. Menyampaikan uneg-unegnya tentang bansos.

Sepanjang perjalanan, kehadiran Zainuri membetot perhatian warga. Sampai di gerbang balai desa, Zainuri mulai melancarkan protes. Aksi yang dilakukanya seorang diri ini dilatar belakangi kekecewaan yang besar terhadap program bantuan sosial untuk warga terdampak Covid-19.

Menurutnya, proses verifikasi yang dilakukan Pemerintah Desa Bandung tak sesuai kondisi riil di bawah. Akibatnya, bantuan sosial itu melenceng dari sasaran. Dia menuding, banyak warga yang mampu malah diberi bantuan. Sedangkan warga miskin justru gigit jari.

“Seperti saya ini justru tidak mendapat bantuan. Padahal, saya hanya berjualan kopi di warung. Nama saya baru saja masuk data tambahan penerima bantuan sosial Pemprov Jatim sebesar Rp 200 ribu,” kata Zainuri.

Zaenuri mengaku kecewa, sebab dirinya selama ini tergolong warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pemilik warkop ini berjanji tak akan menggunakan uang bantuan itu untuk kebutuhan hidup keluarganya. Namun bantuan Rp 200 ribu tersebut akan digunakan memberi makan gratis bagi pelanggan warungnya.

“Jumlah ini (Rp 200 ribu) terlalu kecil dan tak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga saya selama masa pandemi. Bantuane ora mbejaji (bantuannya terlalu kecil),” katanya sembari mengatakan bahwa orang seperti dirinya seharusnya mendapatkan kucuran bantuan pada gelombang pertama.

Kepala Desa (Kades) Bandung M Mukhrarom merespon protes yang diluncurkan warganya. Menurut Kades, jumlah penerima bantuan sosial dampak covid-19 di desanya sebanyak 880 keluarga. Rinciannya, bersumber dari Kemensos, Dana Desa (DD), maupun APBD Kabupaten serta provinsi. Jumlah itu hanya tercatat separuh dari data awal yang diajukan oleh pihak desa.

“Memang, dari jumlah itu nama Zainuri tidak masuk. Namun kemudian ada tambahan penerima manfaat sebanyak 95 keluarga. Mereka masuk dalam daftar penerima bansos APBD Provinsi sebesar Rp 200 ribu. Nah, Zainuri masuk dalam penambahan itu,” kata Kades.

Kades merinci, awalnya pihak desa mengajukan 1900 KK, namun setelah verifikasi hanya 881 KK yang mendapat kucuran bansos. Jumlah itu sudah termasuk 374 bansos Kemensos yang datanya juga dari pusat.

“Terakhir, berdasarkan hasil musdes ada tambahan 95 KK yang menerima bantuan Pemprov. Kita sudah mengupayakan secara maksimal. Dan Zainuri kita masukkan ke data tambahan itu,” pungkas Kades Bandung. [suf/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar