Peristiwa

Prosesi Jalan Salib di Surabaya Ditiadakan, Ibadah di Rumah

Surabaya(beritajatim.com) – Prosesi jalan salib menjadi momentum yang ditunggu umat Katolik di Surabaya sebagai tanda hadirnya Jumat Agung di pekan tri suci Paskah. Hanya saja karena wabah virus corona semua kegiatan gereja untuk menyambut pengorbanan Yesus atau Isa Almasih ini pun harus ditiadakan.

Umat Katholik harus melakukan semua ibadat di rumah. Dipimpin oleh gereja lingkungan, pimpinan gereja Keuskupan, bahkan pimpinan gereja dunia yakni Uskup Agung atau Paus Fransiskus.

Bagi umat Katolik, kejadian corona yang menimpa negara di seluruh dunia ini adalah salib. Mereka mengungkapkan bahwa beban salib kali ini mengetuk hati hingga tetesan air mata pun tak tertahankan. Berdoa di rumah hanya bersama keluarga, mungkin sudah biasa. Namun mengikuti ibadat di hari yang agung ini, merupakan hal pertama yang tak pernah disangka.

“Dulu saya dan keluarga meski tak dapat kursi atau di depan meja altar kami bisa ikut di aula. Tapi semua ini sudah berbeda, kami merasa terketuk hati kami. Beribadat terasa ada yang kurang karena tak menerima debu tanda salib di jidat, hosti (roti tawar.red) dan percikan air suci. Pertama dan merasa haru, tetesan air mata mengalir, hati terenyuh dan kami benar-benar merasa berkomunikasi dengan Tuhan akan kondisi dunia saat ini,” ucap Irawan jemaah Katolik gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya, Jumat (10/4/2020).

Bersujud merenungkan pengorbanan Yesus saat prosesi jalan salib juga tak tertahankan oleh Natalia Diah Kelana. Ibu satu anak ini menjelaskan bahwa saat prosesi jalan salib adalah momentum paling membuat hatinya terteguh.

Merenungkan kematian Tuhan Yesus yang mengorbankan nyawanya demi umat membuat dia tak tertahankan untuk mengetuk dada. Baginya dan umat Katholik lain, kondisi virus corona membuat hal yang berbeda.

Jika dulu mereka bisa beribadat dan gereja menyediakan beberapa kali jadwal misa kudus. Tapi kali ini jadwal misa hanya bisa diikuti melalui streaming youtube. Pemimpin gereja berlomba menyajikan pelayanan di pekan suci paskah ini.

“Kami bersyukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan. Bagi kami, saat ini adalah salib terberat buat semua umat Katholik di dunia. Karena beribadat hanya bisa di lakukan di rumah. Bahkan prosesi jalan salib pun harus kita lakukan di rumah. Tanpa ada drama kolosal yang biasanya kita lihat langsung melalui televisi atau pun di gereja. Kami yakin doa kami didengar Tuhan dan Tuhan akan memberikan yang terbaik dengan caraNya sendiri,” harap Natali.(man/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar