Peristiwa

Potensi Banjir Besar di Jatim, Ini Kata Profesor UB Malang

Banjir Besar di Jakarta 1 januari 2020

Malang(beritajatim.com) – Banjir menggenangi sebagian besar wilayah Jabodetabek dalam dua hari terakhir. Curah hujan yang tinggi serta daya tampung sungai yang gagal mengendalikan banjir menjadi penyebabnya. Akibatnya sebagian besar kawasan Jabodetabek terendam banjir.

Potensi serupa juga menghantui wilayah Jawa Timur. Ada dua sungai besar yang melingkari serta mengaliri daerah-daerah di Jatim. Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Untuk sungai Bengawan Solo hulunya berada di Jawa Tengah namun daerah aliran sungainya mengalir ke sejumlah daerah di Jatim.

Sementara sungai Brantas hulunya berada di Kota Batu. Sementara daerah aliran sungainya hampir sebagian besar wilayah Jatim, bahkan hingga Surabaya dilaluinya. Dari dua sungai itu potensi bencana banjir paling besar ada pada daerah aliran sungai Bengawan Solo.

“Dari dua sungai ini yang wajib diwaspadai adalah sungai Bengawan Solo. Karena DAS-nya luas sementara hanya ada satu bendungan Gajah Mungkur di Wonogiri. Karena bendungan ini selain fungsi lainnya juga berfungsi sebagai pengendali banjir, cuma kendalanya ini satu-satunya,” kata Profesor Bidang Ilmu Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof. Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT., IPU, Kamis, (2/1/2020).

Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya itu mengatakan jika elevasi air waduk Wonogiri sudah benar-benar penuh sementara curah hujan masih tinggi dengan potensi banjir dari hulu. Maka suka atau tidak suka air akan terkirim ke hilir.

“Maka badan sungai mulai Solo, Ngawi, Bojonegoro Lamongan, Babat, Gresik dan seterusnya harus mampu menampung kiriman air dari hulu ini. Termasuk anak-anak sungainya, ini yang riskan sekali kemungkinan ada potensi banjir di hilir karena hanya ada satu bendungan,” ujar Pitojo.

Pitojo mengimbau Badan Pusat Statistik Bengawan Solo untuk melakukan antisipasi pengendalian aliran sungai di hilir. Caranya, mulai dari normalisasi sungai, hingga membuat sudetan. Sebab, wilayah ini dianggap tidak ada potensi topografi lagi yang bisa digunakan untuk membangun bendungan ke arah hilir.

“Jadi lebih mengkhawatirkan Bengawan Solo. Beda dengan Sungai Brantas yang banyak bendungan sejak hulu, anak-anak sungainya pun banyak bendungan. Mulai dari Bendungan Selorejo, Sutami, dan masih banyak bendungan lain,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar