Peristiwa

Ponsel Wartawan Tempo Diduga Disita Jaksa Saat Meliput Kegiatan DPR RI Komisi 3 di Kejati Jatim

Foto ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Ponsel pintar jurnalis Tempo Kukuh S Wibowo diduga disita oleh Seorang Jaksa di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Surabaya, Rabu (2/9/2020). Penyitaan tersebut menurut Kukuh membuatnya tak leluasa dalam menjakankan liputan. Sebab bagi jurnalis era digital, ponsel pintar bisa menjadi kamera mengambil foto, alat perekam suara, perekam video, alat mengetik berita dan juga alat untuk mengirim data melalui jaringan internet.

“Dengan diminta hape (ponsel pintar.red) tersebut, saya tidak bisa mengambil foto suasana pertemuan seperti permintaan redaktur foto. Itu saja sebenarnya. Terus permintaan tak boleh merekam itu urgensinya apa, kalau rapatnya terbuka?,” cetus Kukuh saat dihubungi beritajatim.com.

Selain menyatakan sikap tersebut, Kukuh juga menyampaikan tujuh pernyataan sikap dengan kronologi kejadian di Kejati tersebut. Berikut kronologinya:

1. Saya diminta pemred (melalui rekan wartawan senior Tempo di Surabaya Endri Kurniawati) menghadiri undangan Komisi III DPR, yg mengadakan kunjungan kerja di Kejati Jatim, Rabu, 2 September 2020. Diundang pula Kajati Jatim dan para asisten, serta Kepala Bea Cukai dan para staf, serta dua orang pengusaha (importir). Dari Komisi III ada sekitar 12 orang, antara lain Desmond J Mahesa, Adies Kadir, Arteria Dahlan, Syarifuddin Sudding.

2. Rapat itu untuk menindaklanjuti berita di majalah Tempo pekan ini soal dugaan penyelundupan 17 kontainer tekstil dari Cina, yg disebut ada campur tangan Adies dan Sudding, supaya lolos dari kepabeanan. Juga untuk mensiasati bea masuk.

3. Saya datang agak belakangan, saat forum sedang dibuka oleh Desmond. Belum lagi saya duduk di kursi undangan (sejajar kursi undanga Kajati, Kepala Bea Cukai, pengusaha), Desmond langsung menanyakan legalitas saya, status saya, rekomendasi dll. Namun akhirnya saya dipersilakan duduk.

4. Tak lama setelah saya duduk, seorang jaksa menghampiri dan meminta telepon seluler. Alasannya agar tidak merekam pembicaraan forum.

5. Di awal pertemuan, 2 pengusaha disuruh keluar karena akan membahas hal teknis penyelidikan. Terhadap saya, sikap DPR terbelah. Ada yg minta saya keluar, ada yg tidak. Desmond memutuskan saya tetap di kursi agar bisa menyimak pembicaraan dan “tahu fakta sebenarnya.”

6. Jalannya forum cukup panas. Saya dicecar Desmond, Arteria, Sudding soal berita tersebut. Kajati dan Kepala Bea Cukai menambah “bobot” cecaran Dewan dengan menyangkal berita Tempo.

7. Setelah rapat selama 3 jam selesai, HP langsung dikembalikan. Saya belum mengecek apakah ada data yg diretas. Cuma notifikasi WA yg semula saya silent, jadi berbunyi dan bergetar. Namun belum tahu apakah kesenggol saya sendiri atau diuteg-uteg (dibuka.red).

Sementara itu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) akota Surabaya menyayangkan salah seorang Jaksa di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang menyita ponsel Kukuh S Wibowo, jurnalis Tempo dalam forum rapat antara Komisi III DPR RI, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Bea Cukai di Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Rabu (2/9/2020).

Terkait hal ini, AJI Surabaya menyampaikan sikap:

1. Menuntut Kejaksaan untuk meminta maaf kepada awak media atas tindakan yang dilakukan jaksa tersebut kepada publik dan Kukuh S Wibowo, Jurnalis Tempo. Pasalnya, jurnalis bekerja untuk kepentingan publik.

2. Meminta Kejaksaan untuk memberikan sanksi kepada jaksa yang meminta telepon seluler Kukuh S Wibowo.

3. Meminta aparat penegak hukum memproses kasus ini sesuai aturan yang berlaku karena ada dugaan ponsel milik Kukuh diakses secara ilegal. [man/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar