Peristiwa

Polres Probolinggo Persempit Ruang Gerak Teroris

RAZIA- Polres Probolinggo melakukan Razia terkait peristiwa pembacokan di Polsek Wonokro, Rabu (21/8/2019). Foto: Eko Hardianto/beritajatim

Probolinggo (beritajatim.com) – Peristiwa pembacokan oleh terduga teroris di Mapolsek Wonokromo, Surabaya, Jatim, Sabtu (17/8/2019) lalu, membuat jajaran kepolisian di sejumlah daerah segera memperketat keamanan.

Di Mapolres Probolinggo Kota misalnya. Selain antisipasi terjadinya serangan serupa, usaha mempersempit gerakan teroris juga tengah berlangsung.

Upaya pengamanan yakni dengan memperketat penjagaan gerbang masuk Mapolres Probolinggo Kota di JL. dr. Saleh kota setempat. Sejumlah petugas bersenjata lengkap berjaga-jaga serta melakukan pemeriksaan setiap tamu yang masuk dengan mengunakan metal detektor dan miror scand.

“Kami melakukan perekat penjagaan sebagai bentuk antispasi pasca penyerangan Polsek Wonokromo beberapa waktu lalu,” kata Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal, Rabu (21/8/2019).

Menurut Alfian, meski penjagaan lebih diperketat, namun urusan pelayanan masih tetap berlangsung seperti biasa. Terlihat selain barang bawaan setiap tamu, kendaraan yang mereka tumpangin-pun tak luput dari pemeriksaan.
“Selain itu saat di SPKT petugas akan meminta tanda pengenal dari pihak tamu yang datang,” sambungnya.

Disinggung soal sel jaringan teroris di Kota Probolinggo, Alfian memastikan belum terdeteksi embrio teroris. Ia bahkan berharap masyarakat juga segera berkordinasi dengan kepolisian, jika terdapat tanda gerakan radikal dan mencurigakan oleh orang takdikenal disetiap kampung maupun perkotaan. “Dari 16 sela jaringan teororis di Kota Probolinggo, sebelumnya sudah berhasil diamankan Densus 88 Mabes Polri tahun 2018 lalu.

Saat ini dari penangkapan petugas para tersangka pelaku teroris masih menjalani masa hukuman. Sedangkan ada satu tersangka teroris yang meninggal dunia dikarenakan sakit,” terang Alfian.

Seperti diketahui, seorang anggota Polsek Wonokromo, Surabaya, diserang aksi teror berupa pembacokan. Peristiwa ini dilakukan sekitar pukul 17.30 WIB. Korbannya adalah Aiptu. Agus, dan diserang saat sedang piket. Motif yang dilakukan tersangka adalah jihad.

Kronologisnya, sekitar pukul 16.45 wib pelaku masuk ke halaman Mapolsek Wonokromo, dan diterima SPKT. Saat ditanya keperluannya oleh Aiptu Agus, pelaku langsung melakukan pembacokan dengan menggunakan clurit dan mengenai bagian tubuh korban.

Pelaku-pun akhirnya bisa dilumpuhkan, setelah sejumlah anggota reskrim melepaskan tembakan. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan satu buah pisau penghabisan, satu buah celurit, satu buah ketapel dengan amunisi kelereng, satu senpi gas gun hitam, satu buah kaos warna hijau, alat mandi dan tas ransel hitam, beserta dua lembar kertas fotocopy bertuliskan laillahhaillallah.

Peritiwa mengejutkan ini juga mendapat atensi khusus Kapolri Tito Karnavia. Senin (19/8/2019) kemarin, Tito, bertolak dari Mabes Polri Jakarta ke Surabaya, untuk membesuk korban dan tersangka.

Di Jawa Timur ini, Kapolri Tito Karnavian, juga membeberkan jaringan teroris yang diikuti oleh Imam Musthofa (31) pelaku pembacokan polisi di Polsek Wonokromo. Yakni bahwa IM tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Pelaku tergabung dalam JAD dan belajar jihat secara perseorangan. Kemudian pelaku bergabung bersama rekan teroris lain secara perseorangan juga,” katanya, Senin (19/8/2019). (eko/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar