Peristiwa

Tangkap 80 Orang

Polisi Buru Dalang Kericuhan Demo Tolak Omnibus Law di Malang

Demo di Malang ricuh hingga merembet ke kawasan Stasiun Malang.

Malang (beritajatim.com) – Polresta Malang Kota menangkap sekitar 80 demonstran dalam aksi menolak Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja di kawasan Alun-alun Tugu, Kota Malang, Kamis, (8/10/2020). Unjuk rasa di Kota Malang memang diwarani kericuhan sejak pagi.

Sejumlah fasilitas publik rusak, kaca-kaca gedung DPRD pecah, mobil bernopol merah rusak, satu mobil Pamwal Satpol PP Kota Malang dibakar. Serta empat kendaraan dinas roda dua milik Polresta Malang Kota juga dibakar demonstran.

Kapolresta Malang Kota, Kombespol Leonardus Simarmata mengatakan polisi masih memeriksa peran masing-masing demonstran yang ditangkap. Terutama mereka yang terlibat langsung dalam bentrokan dan perusakan.

“Sekitar 80 orang kami tangkap, saat ini kami lakukan pemeriksaan dulu. Kami cek perannya pada saat demo. Akan kami lihat kalau memang yang tidak terkait dengan perusakan dan pembakaran nanti kami kembalikan. Masih kami dalami dan kami periksa,” ujar Leonardus.

Leonardus mengatakan, dari analisa sementara, kelompok massa yang anarkis bukan berasal dari mahasiswa maupun buruh. Sebab, sebagian besar yang ditangkap merupakan demonstran berusia remaja dengan pakaian khas hitam-hitam. Polisi juga masih mencari dalang dibalik kerusuhan di Malang.

“Ketika massa yang anarkis tadi mulai bermain. Teman mahasiswa sama buruh langsung mundur. Ini yang bermain kelompok mana. Karena bukan buruh dia. Masih kami identifikasi karena yang ricuh banyak ada anak-anak kecil berpakaian-pakaian hitam,” papar Leonardus.

Perwakilan Aliansi Malang Melawan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang, Maghfur Agung mengatakan sebagian besar kelompok mereka saat kerusuhan terjadi masih berada jauh dari kawasan Alun-alun Tugu, Kota Malang. Mereka menilai, kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok demonstran lain bukan bagian dari konsep unjuk rasa yang mereka siapkan dalam penolakan UU Omnibus Law Ciptaker.

“Kami selaku mahasiswa yang tergabung dalam kelompok aksi Malang Melawan tidak menghendaki adanya kericuhan yang terjadi saat demonstrasi. Dengan tegas kami menyatakan kerusuhan yang terjadi bukan dari kelompok kami. Tindakan ini diluar dari konsep yang di sepakati masa aksi Aliansi Malang Melawan,” ujar Maghfur Agung. [luc/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar