Peristiwa

Pohon Tumbang Ancam Nyawa Pengguna Jalan Masih Tinggi di Bojonegoro


Bojonegoro (beritajatim.com)
– Adanya proyek pembangunan trotoar saat musim peralihan menjadikan ancaman keselamatan yang lebih besar bagi pengguna jalan. Saat peralihan musim biasanya ditandai dengan hujan badai yang menyebabkan banyak pohon tumbang.

Ancaman keselamatan bagi pengguna jalan tersebut lantaran dampak penggalian proyek pembangunan trotoar di sejumlah ruas jalan yang tidak memperhatikan akar pohon penghijauan. Sehingga cengkeraman akar pohon ke tanah berkurang karena terpotong.

Dengan adanya proyek pembangunan trotoar tersebut pengguna jalan dihimbau untuk berhati-hati serta lebih waspada, khususnya saat hujan disertai angin. Hal itu diungkapkan oleh salah seorang aktivis lingkungan, Telisik Bojonegoro, Radinal Ramadhana, Minggu (10/11/2019).

Banyaknya pohon penghijauan yang tumbang saat terjadi hujan disertai angin seperti yang terjadi kemarin malam, menurut dia, bukan hanya karena angin kencang. Namun, juga ada kesalahan teknis dalam pengerjaan proyek trotoar yang tidak memperhatikan akar pohon.

“Banyaknya penggalian pembangunan trotoar ini tidak memperhatikan akar pohon. Banyak akar yang ikut dipotong, sehingga pohon rawan tumbang,” ujarnya.

Sementara diketahui, adanya proyek pembangunan trotoar di Bojonegoro ini sedikitnya ada 340 pohon yang diusulkan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Kabupaten Bojonegoro untuk ditebang.

Penebangan akan dilakukan sesuai dengan kondisi pohon. Jika masih memungkinkan, pohon penghijauan yang berada di tepi jalan itu akan disisakan setinggi enam meter. Namun, jika kondisinya membahayakan akan ditebang hingga akarnya.

“Tapi jumlah yang diusulkan itu masih akan kita kaji dulu, bisa jadi tidak semua usulan akan kami tebang. Jika masih bisa dipertahankan ya kita pertahankan,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Hanafi.

Sementara, lanjut Hanafi, satu pohon yang ditebang, DLH meminta untuk diganti sebanyak tujuh pohon jenis tabibuya oleh pelaksana proyek. Tujuh pohon pengganti itu, penanamannya tidak disesuaikan dengan titik pohon yang ditebang, tetapi ditentukan oleh tim dari DLH.

“Tabibuya itu kerapatannya hanya dua meter. Pohon ini bukan pohon peneduh, tapi pohon keindahan. Jadi seperti Sakura Jawa,” jelasnya.

Proyek pembangunan trotoar tersebut sebanyak 23 paket pekerjaan, dengan rincian 12 proyek konstruksi, 10 proyek jasa konsultasi, dan 1 proyek dalam bentuk pembelian pot bunga untuk trotoar. Dari 12 proyek  konstruksi itu totalnya menggunakan anggaran sebesar Rp 24,7 miliar.

Pembangunan trotoar itu satu paket berada di Kecamatan Sukosewu, dan lainnya berada di jalan kota. Seperti, Jalan Mas Tumapel depan kantor Pemkab Bojonegoro, seputar Alun-alun, Jalan Teuku Umar, Jalan Trunojoyo, Jalan Diponegoro, Jalan Gajah Mada, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan dr Wahidin, Jalan Ahmad Yani, Jalan WR Supratman, dan Jalan KH Mansyur. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar