Peristiwa

Pintu Air DAM Sipon Penuh Sampah, LPBI-NU Kabupaten Mojokerto Turun Membersihkan

LPBI-NU Kabupaten Mojokerto bersama pantes relawan melakukan pembersihan pintu di DAM Sipon yang ada di Sungai Brantas. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Pintu air DAM Sipon di Sungai Brantas disebut sebagai pemicu banjir di dua dusun di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Untuk itu, Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia Nahdlatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Mojokerto membersihkan DAM Sipon dari sampah.

Ketua Lembaga Penaggulangan Bencana Indonesia Nahdatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Mojokerto, Saiful Anam mengatakan, bersih-bersih DAM Sipon dilakukan sejak, Selasa (4/2/2020) kemarin. “Kita bersama potensi relawan Mojokerto lainnya, membersihkan DAM Sipon dari sampah,” ungkapnya, Kamis (6/2/2020).

Masih kata Anam, dengan hanya berbekal pengalaman mengikuti pelatihan bersama Basarnas, LPBI-NU bersama potensi relawan Mojokerto lainnya memberikan DAM Sipon dari sampah. Kebanyakan sampah yang menyangkut di pintu air DAM Sipon berupa ranting pohon sehingga aliran air tidak lancar.

Kayu dengan berbagai ukuran di evakuasi secara perlahan oleh anggota LPBI-NU Kabupaten Mojokerto dengan cara menuruni DAM Sipon dengan alat panjat tebing. Seperti Kernmantle Rope (Tali Karnmantel), Hardness, Carabiner, Ascender, Descender, Hammer dan Hanger. Tujuannya agar pintu air tidak tersumbat sampah.

“Melubernya avur Sungai Watudakon menjadi salah satu penyebab banjir di 2 dusun di Desa Tempuran adalah tersumbatnya DAM Sipon oleh sampah. Pintu air yang tersumbat oleh sampah membuat aliran sungai kurang lancar sehingga sejak kemarin, kita mulai kita bersihkan DAN Sipon dari sampah-sampah,” ujarnya.

Meski resiko pembersihan DAM Sipon cukup tinggi, ditambah kondisi debit air juga cukup deras, sehingga lanjut Anam, ia tetap memprioritaskan keselamatan anggotanya. Karena untuk mengevakuasi pohon, anggota LPBI-NU harus menuruni DAM Sipon yang memiliki ketinggian hampir 5 meter.

“Selain itu, kita juga mempersiapkan berbagai macam alat seperti Catrol dan juga perlengkapan untuk menuruni DAM Sipon. Karena mita menyadari resiko sangat tinggi, jika salah satu tim dari kita ada yang lepas kita tidak membayangkan lagi. Otomatis akan terseret derasnya air tapi kita sudah mendapatkan pelatihan dari Basarna,” lanjutnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar