Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Peserta Rakerwil ke-4 AMSI Jatim Diajak Nostalgia ke Sekolah Soekarno di Mojokerto

Peserta Rakerwil ke-4 AMSI Jatim berfoto di depan patung Soekarno kecil di halaman SDN Purwotengah.

Mojokerto (beritajatim.com) – Lantunan nada gamelan yang dimainkan para siswa-siswi SDN Purwotengah Kota Mojokerto menyambut puluhan anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur yang mengikuti city tour. Sementara yang lain menyambut di halaman depan dengan pakaian khas tempo dulu pada Minggu (19/6/2022) pagi.

Para siswa menggunakan kemeja putih, dasi kupu-kupu, kain jarik, dipadu setelah jas warna putih lengkap. Sementara bagian kepala menggunakan blangkon bermotif sama dengan jarik.

Sementara para siswi mengenakan jarik dan kebaya putih dipadukan dengan jilbab dengan warna senada. Satu per satu anggota Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-4 masuk ke kelas Presiden Soekarno saat dipandu para guru SDN Purwotengah.

SDN Purwotengah yang terletak di Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto merupakan sekolah Koesno, panggilan Ir Soekarno saat masih kecil. Semasa penjajahan Belanda, sekolah ini disebut Inlandsche School atau sekolah khusus anak warga pribumi atau Sekolah Rakyat ‘Ongko Loro’.

Diperkirakan, Soekarno belajar di sekolah rakyat ‘Ongko Loro’ pada 1909-1912 dari tingkat dua hingga empat. Kepala SDN Purwotengah, Endang Pujiastutik menceritakan sejarah Bung Karno saat berada di SDN Purwotengah kepada para peserta Rakerwil ke-4.

“Soekarno pernah bersekolah di SDN Purwotengah yang dulunya memiliki nama Ongko Loro (Tweede Inlandsche School). Soekarno sekolah disini itu mulai kelas 2 hingga kelas 4. Dari SK Bapak R Sukemi Sosrodiarjo bahwa beliau (Soekarno) pernah berada di Kota Mojokerto,” ujarnya.

SDN Purwotengah merupakan Sekolah Bumi Putra sehingga kalau tetap di Sekolah Ongko Loro maka Soekarno tidak dapat melanjutkan pendidikan. Sehingga saat naik ke tingkat lima, Soekarno kemudian dipindahkan oleh ayahnya ke Europesche Lagere School (ELS).

“Ini agar lebih memiliki kualifikasi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. ELS saat ini adalah SMPN 2 Kota Mojokerto. Bung Karno ini pintar tapi Bahasa Belanda nya belum lancar. Maka di saat harus kelas V maka turun kelas III, di ELS mulai kelas III sampai VII,” jelasnya.

Setelah mendapatkan penjelasan, para Rakerwil ke-4 masuk ke bagian dalam SDN Purwotengah. Di sini selain di suguhkan gamelan yang dimainkan sejumlah siswa, juga disuguhkan permainan jadul. Seperti permainan dakon, permainan ini terbuat dari kayu dengan panjang 50 cm, lebar 20 cm, dan tebal 10.

Bagian atas kayu ini diberi lubang dengan 5 cm untuk diameternya dan 3 cm untuk dalamnya. Jumlah lubang dakon minimal 12 buah, permainan ini membutuhkan biji dakon. Biji dakon ini bisa menggunakan biji sawo kecil atau sawo manila, ataupun kelereng kecil.

Dakon bisa dimainkan di atas tanah dengan membuat lubang-lubang kecil di tanah sejumlah 12. Permainan dakon di tanah biasanya menggunakan batu-batu kecil sebagai bijinya, jumlah pemainnya minimal dua orang. Juga ada permainan tradisional cublak-cublak suweng.

Permainan ini diawali dengan hompimpa atau gambreng untuk menentukan siapa yang kalah pertama kali. Setelah itu, ia yang kalah akan berperan menjadi Pak Empong yang berbaring terlungkup ditengah dan anak-anak yang lain akan duduk melingkari Pak Empong.

Kemudian mereka yang melingkari Pak Empong membuka telapak tangan menghadap ke atas dan diletakkan di punggung Pak Empong. Lalu ada salah satu anak memegang biji/kerikil dan dipindah dari telapak tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-cublak Suweng.

Sementara di meja tampak tersebut polo pendem yakni penganan yang semua jenis buahnya berada di dalam tanah yang dimasak dengan cara dikukus. Seperti kentang, ubi, singkong, ketela pohon. Selain disuguhi polo pendem, juga ada minuman tradisional, secang.

Sebelum meninggalkan SDN Purwotengah, anggota Rakerwil ke-4 ini pun tak menyia-yiakan kesempatan berswa foto dibawah patung Soekarno kecil yang berada di halaman SDN Purwotengah. Para peserta kemudian melanjutkan city tour ke SMPN 2 Kota Mojokerto.

Tak jauh berbeda, para peserta ditunjukkan di mana kelas Soekarno saat menempuh pendidikan di ELS setelah dipindah dari Sekolah Ongko Loro. Di halaman depan juga berdiri patung Soekarno. Rombongan kembali melanjutkan ke kunjungan ke workshop UMKM sepatu di Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

City tour dilanjutkan ke wisata peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Yakni ke Candi Tikus di Desa Temon. Rangkaian city tour Rakerwil ke-4 AMSI Jawa Timur ditutup dengan makan siang di Sambel Wader Cak Mat tepat di depan Kolam Segaran di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Sambel wader merupakan kuliner khas Trowulan. Ikan kecil dengan sambel tomat yang dipadukan sayuran seperti kubis, daun kemangi dan mentimun. Agenda city tour merupakan agenda hari kedua atau hari terakhir Rakerwil ke-4 AMSI Jatim di Mojokerto.

Ketua AMSI Jatim, Arif Rahman mengatakan, AMSI Jatim mengeksplor Kota Mojokerto sehingga ada agenda city tour. “Mojokerto itu yang pertama, Mojokerto memang tidak lepas sejarah besar bangsa ini. Baik zaman Majapahit, kemerdekaan. Zaman Majapahit, Mojokerto tempat raja sebagai pusat pemerintahan,” urainya.

Kerajaan Majapahit menjadi titik sentral dari berkuasanya kerajaan nusantara di level kawasan Asia. Arif menambahkan, bahwa pada zaman itu wilayah kekuasaan Majapahit melebih wilayah yang ada di Indonesia yang pada waktu masih dinamai Hindia Belanda.

“Majapahit dulu itu lebih besar dari itu. Karena itulah city tour kali ini adalah membangkitkan kembali semangat Majapahit. Kita ingin mengingatkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bahwa dulu kita pernah menjadi pemain dalam kancah global. Ini agar menjadi semangat teman-teman AMSI, semoga jangan inferior,” jelasnya. [tin/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar