Peristiwa

Pernikahan Anak dan Kasus Perceraian di Jatim Melonjak Drastis di Masa Pandemi

Surabaya (beritajatim.com) – Berdasarkan data Simfoni (Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak) hingga 2 November 2020, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim mencapai 1.358 kasus. Kekerasan seksual masih mendominasi. Dan, kekerasan perempuan serta anak banyak terjadi di rumah tangga.

“Ini menjadi persoalan. Pada masa pandemi ini betul-betul kita tuntaskan, kita selesaikan. Kalau ini tidak bisa kita tangani, maka bisa menyebabkan persoalan konflik sosial, persoalan anak berhadapan dengan hukum dan persoalan perkawinan anak serta seterusnya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim, Dr Andriyanto SH MKes di kantornya, Senin (2/11/2020).

Selain itu, kasus pernikahan anak di Jatim mengalami kenaikan. Pada tahun 2019, tercatat menurut data Pengadilan Tinggi Agama Jatim di Surabaya, ada 5.127 kasus pernikahan anak. Hingga akhir Oktober 2020, tercatat sudah ada 6.084 kasus perkawinan anak.

“Ini adalah pernikahan anak yang laki-laki di bawah usia 19 tahun, kemudian wanitanya di bawah usia 16 tahun. Ini fenomena gunung es. Bisa jadi yang tidak tercatat lebih dari data itu, karena dinikahkan secara siri oleh tokoh agama setempat,” ungkapnya.

Kemudian, data kasus perceraian di Jatim menunjukkan tren fantastis. Pada tahun 2019 tercatat 8.303 kasus, tetapi sampai akhir September 2020 tercatat 55.747 kasus. “Ini menjadi sebuah angka yang cukup memprihatinkan. Ini karena kalau terjadi perceraian, suka tidak suka, mau tidak mau bahwa yang terdampak adalah anak-anak. Pada konteks perlindungan anak, akan muncul kasus penelentaran anak, pengasuhan anak yang rendah dan kasus traficking anak,” tegasnya.

Pemprov Jatim, kata dia, telah membuat tim, terutama terkait pemulihan sosial, selain ekonomi dan kesehatan. “Ada desk conseling untuk keluarga sejahtera yang ditempatkan di seluruh Bakorwil di Jatim dan membuka layanan online dan offline. Yakni, untuk melayani pengendalian penduduk, ketahanan keluarga dan terapi stres anak pada pendidikan,” pungkasnya. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar