Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Peristiwa Kekerasan di Pondok Gontor Ponorogo, Lukman Hakim: Itu Kecelakaan

Ponorogo (beritajatim.com) – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) beberapa minggu terakhir dirundung oleh peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan kematian santrinya.

Kejadian naas itu, baru diketahui oleh publik, selang 2 pekan setelah kejadian tindak kekerasan tersebut. Setelah diviralkan oleh pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

Terkait peristiwa tersebut, sejumlah alumni Pondok Gontor ikut bersuara. Salah satunya mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Melalui akun media sosial (medsos) instagramnya @lukmanhsaifuddin, alumnus Gontor tahun 1983 itu menyebut bahwa peristiwa tindak pidana kekerasan yang berakibat kematian di PMDG adalah kecelakaan.


Menurutnya, tidak ada satu pun pihak, bahkan pada diri pelakunya sekali pun yang berniat menghilangkan nyawa seseorang.

“Pondok Gontor memang menerapkan disiplin tinggi pada setiap santri, tapi tindak kekerasan itu, sama sekali bukanlah yang dianut dalam sistem pendidikan Gontor secara resmi,” kata Lukman saat diunggah di akun instagram centang biru miliknya pada hari Minggu (11/9/2022).

Sebagaimana lazimnya kecelakaan, tak ada pihak yang menghendakinya terjadi. Kata Lukman, kita semua harus mampu belajar dari kecelakaan itu. Dia memaknai peristiwa kecelakaan itu sebagai ujian, agar kita berkesempatan naik kelas dalam menempuh kehidupan ini. Bukankah hanya mereka yang menjalani ujian sajalah yang berkesempatan untuk naik kelas?

“Naik kelas dalam artian meningkatnya kualitas amalan kita, sehingga Allah menaikkan derajat, harkat, dan martabat kemanusiaan kita,” katanya.

Lukman mengatakan banyak hal yang bisa dipetik dari peristiwa kecelakaan ini. Penanaman nilai dan norma pendidikan yang memanusiakan manusia. Regulasi dan pengaturan pola pengasuhan santri.

Implementasi pemantauan dan pengawasan atas penerapan regulasi dan pengaturan. Kesemuanya itu perlu disempurnakan kembali.

“Refleksi dan evaluasi atas sejumlah hal terkait peristiwa tersebut perlu serius dilakukan. Kita semua harus berbenah diri,” ungkapnya.

Dia akhir tulisannya, Lukman juga menyinggung terkait adanya surat perjanjian antara wali santri dengan PMDG. Menurutnya, konteks dari surat perjanjian itu, menyangkut kesediaan menaati dan mematuhi penerapan sistem dan pola pendidikan dan pengajaran di PMDG.

Berikut dengan segala sunnah dan disiplin yang menyertai. Kesepakatan itu, wujud tindak lanjut dari kepercayaan penuh wali santri kepada PMDG dalam mendidik santri. Tentu konteksnya, di luar tindak pidana. Sebab tak ada sedikit pun bayangan dan pikiran, apalagi niatan dari pada diri pimpinan PMDG untuk mentolerir terjadinya hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai tindak pidana.

“Semoga penanganan atas peristiwa kecelakaan ini berlangsung dan berakhir dengan baik untuk kemaslahatan bersama,” pungkas Lukman. (end/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar