Peristiwa

Kisah Kesaksian Mantan Teroris (3-Habis)

Peracik Bom Insyaf Setelah Bertemu dengan Korban Teror

Jember (beritajatim.com) – Penjara menjadi tempat bagi tukang bikin bom seperti Kurnia Widodo merefleksikan kembali hidupnya. Dia merenungkan kembali doktrin kekerasan beragama yang selama ini dianutnya.

“Di penjara susah. Keluarga ditinggal. Apa saja kita lakukan seadanya. Di penjara, saya berpikir ulang dan mengaji ke kelompok yang lebih moderat dalam kelompok saya,” kata Kurnia, dalam dialog pelibatan sivitas akademika dalam pencegah terorisme, di gedung Rektorat Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/7/2019).

Kurnia pada dasarnya mencintai keluarganya. Ini berbeda dengan penganut jihadis garis keras yang rela meninggalkan keluarga, apalagi istri dan anak mereka bukan bagian dari kelompok.

Selama di penjara, Kurnia melihat ajaran-ajaran Aman Abdurrahman, ideolog ISIS di Asia Tenggara, soal takfiri (mengkafirkan) sesama muslim tak mendasar. Ia bertemu dengan seorang sipir penjara muslim yang sering berkonsultasi soal keluarga. “Masa orang seperti ini dianggap kafir. Kan tidak benar,” katanya.

Kurnia semula enggan salat di masjid lembaga permasyarakatan. Dia berkeyakinan bahwa polisi dan lembaga-lembaga negara adalah bagian dari rezin toghut (sesuatu yang disembah selain Allah). Namun refleksi hidupnya melunakkan hati. Dia memilih salat di masjid lapas dengan risiko dijauhi kawan-kawannya.

Titik balik kedua kehidupan Kurnia adalah saat bertemu dengan korban dan keluarga korban teror bom. Hatinya tergerak saat bertemu korban bom di Hotel JW Marriot yang mengalami luka bakar pada 65 persen tubuhnya.

Kurnia bertemu pula dengan salah satu korbam bom Kuningan. Saat itu si korban ini tengah mengantarkan sang istri yang sedang hamil saat bom meledak. Salah satu bola matanya copot. Istrinya meninggal walau sang anak dalam kandungan berhasil diselamatkan.

Saat mulai besar, sang anak berkata kepada sang ayah: ingin menjadi polisi. “Supaya bisa menembak teroris. Di situ saya sadar, bahwa pengeboman melahirkan dendam. Saya minta maaf walau saya bukan pelaku bom Kuningan,” kata Kurnia. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar