Peristiwa

Penyebab Kecelakaan Gerbong KA di Stasiun Kota Lama Masih Diselidiki

Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Suprapto.

Malang (beritajatim.com) – PT KAI Daop 8 Surabaya sampai saat ini masih melakukan penyelidikan atas insiden gerbong kereta api tanpa lokomotif menabrak sebuah eskavator mini yang berada di jalur rel dua Stasiun Malang Kota Lama, Kota Malang, Rabu (18/11/2020). Hingga saat ini mereka masih melakukan penyelidikan, Kamis, (19/11/2020).

Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Suprapto mengaku belum bisa mengambil kesimpulan penyebab kecelakaan gerbong tanpa lokomotif ini. Soal informasi bahwa rangkaian gerbong kereta api ini meluncur dari Stasiun Kota Baru yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Stasiun Kota Lama. Dia mengaku semua masih dalam penyelidikan.

“Sekali lagi apa yang bisa saya ungkapkan seperti apa yang ada di rilis saya masih menunggu terkait dengan penyelidikan. Mohon teman-teman memahami karena ini kan hasil penyelidikan masih berlangsung sekali lagi sesuai dengan yang ada di rilis,” ujar Suprapto.

Informasi di lapangan, Stasiun Kota Baru berada pada ketinggian 444 meter di atas permukaan laut. Sedangkan Stasiun Kota Lama berada di ketinggian 429 meter di atas permukaan laut. Faktor ini diduga menjadi salah satu penyebab kereta api melaju kencang dari Stasiun Kota Baru menuju Stasiun Kota Lama. Namun, Suprapto kembali menegaskan masih dalam penyelidikan.

“Pola operasi langsiran ini masih dalam tahap penyelidikan. Sekali lagi terkait dengan penyebab dan pola langsiran masih sesuai dengan penyelidikan,” ujar Suprapto.

Berdasarkan informasi rangkaian kereta ini melaju dari Stasiun Kota Baru karena proses langsiran yang gagal. Sehingga kereta melaju dari arah utara menuju selatan. Bahkan, sempat melintasi 3 perlintasan palang pintu kereta api. Masing-masing di Jalan Mangun Sarkoro, Jalan Zaenal Zakse, dan Jalan Martadinata sebelum berakhir di jalur dua karena menabrak eskavator dan keluar jalur karena rel dua putus dalam perbaikan.

Informasi ini diperkuat oleh kesaksian warga di lokasi. Slamet Effendy mengungkapkan saat peristiwa itu terjadi dirinya berada di lantai dua rumahnya. Dia melihat secara jelas jika 7 gerbong kereta api tanpa lokomotif melaju kencang dengan kecepatan kira-kira 40 kilometer dari arah utara atau Stasiun Kota Baru. Bahkan, dia sempat meneriaki para pekerja untuk menghindar dari rel.

“Jadi setelah kereta Penataran jurusan Surabaya – Blitar melintas dua menit kemudian tiba tiba dari arah utara atau dari arah Stasiun Malang Kota Baru, datang tujuh rangkaian gerbong kereta tanpa lokomotif berjalan kencang di jalur rel dua. Diperkirakan kecepatan gerbong tanpa lokomotif itu berjalan sekitar 40 kilometer per jam,” tandas Slamet. [luc/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar