Peristiwa

Penumpang Mudik di Terminal Kertajaya Mojokerto Meningkat

Mojokerto (beritajatim.com) – Meski sebelumnya pemerintahan melarang masyarakat untuk mudik di tengah wabah virus corona (Covid-19), namun trend mudik lebih awal sudah mulai terlihat di Terminal Kertajaya Kota Mojokerto. Mudik awal di Terminal Kertajaya sudah terlihat sejak pertengahan bulan Maret lalu.

Kepala Seksi Pengendalian dan Operasional, Unit Pelaksana Teknik Lalu-lintss Angkutan Jalan (UPT LLAJ) Mojokerto, Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Yoyok Kristyowahono membenarkan, ada peningkatan jumlah penumpang di Terminal Kertajaya Kota Mojokerto sejak pertengahan bulan Maret lalu.

“Sejak pertengahan Maret 2020 lalu, ada peningkatan penumpang dibanding bulan-bulan sebelumnya. Total, dari data per Maret lalu, setidaknya sudah ada 39.788 orang yang datang atau turun di Terminal Kertajaya,” ungkapnya, Jumat (3/4/2020).

Dengan rincian, sebanyak 21.625 penumpang perempuan dan 18.163 penumpang laki-laki. Sebanyak 25.631 penumpang tercatat sebagai penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Sebaliknya, penumpang yang datang menggunakan bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) diketahui sebanyak 14.159 penumpang.

“Angka itu, terdeteksi sepanjang bulan Maret kemarin. Apakah mereka yang tercatat adalah pemudik? Kami belum dapat menyimpulkan tapi yang jelas, dengan data ini tren mudik awal tahun ini, besar kemungkinan ada. Karena kemarin ada 2 penumpang asal Gondang yang kembali karena ditolak warga,” katanya.

Yoyok menjelaskan, ada dua penumpang asal Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto yang sempat ditolak warganya karena diketahui pulang kampung lebih awal di tengah wabah virus corona. Ini diketahui setelah keduanya kembali ke Terminal Kertajaya untuk meminta hasil tes thermo gun.

“Ada dua pemudik sempat minta hasil thermo gunnya karena ditolak warga. Nah, dengan menunjukkan foto hasil thermo gun di posko terminal, mereka akhirnya diterima di kampungnya. Hasil tes suhu tubuh ini diketahui, akan digunakan keduanya sebagai laporan dan bukti ke warga sekaligus perangkat desa,” jelasnya.

Keduanya diketahui mudik dari Jawa Tengah. Tidak diterimanya pemudik ini karena masyarakat khawatir kehadiran mereka membawa virus corona. Namun suhu tubuh keduanya 36 derajat celcius. Yoyok menjelaskan, jika Terminal Kertajaya memang melakukan cek kesehatan dan cek suhu tubuh bagi penumpang yang datang serta adanya bilik disinfektan.

“Ini jadi evaluasi bersama, keberadaan surat keterangan kesehatan dari daerah asal untuk ditunjukkan ke daerah tujuan dinilai penting. Tujuannya, memutus mata rantai persebaran pandemi virus korona di Indonesia, ditambah ini merupakan protokol kesehatan ini telah diterapkan di Terminal Kertajaya,” tegasnya.[tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar