Peristiwa

Pengakuan Pelaku, Video Mesum Direkam Bergantian

Mojokerto (beritajatim.com) – Pelaku penyebaran video dan foto capture whatsapp (WA) mesum, Firman Ardiansyah (24) mengaku, jika video layaknya suami istri tersebut direkam secara bergantian. Video tersebut diambil di kamar rumah pelaku.

Video tersebut direkam pada Minggu (15/7/2018) di rumah pelaku di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pelaku dan korban melakukan hubungan layaknya suami istri dan direkam oleh pelaku menggunakan handphone (HP).

Hubungan layaknya suami istri tersebut berulang sampai sebanyak delapan kali. Kemudian video tersebut disebar karena pelaku sakit hati karena korban bermesraan dengan laki-laki lain di tempat kerjanya. Yakni di pabrik kertas di Ngoro Industri Persada (NIP).

Pelaku mengetahui jika korban bermesraan dengan laki-laki lain dari saudaranya. Pelaku kemudian mengancam korban dengan kata-kata kasar, dan pada hari Minggu (6/1/2019), korban mengetahui jika video tersebut tersebar di WA.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP M Sholikin Fery mengatakan, biar viral sehingga disebarkan karena korban disuruh datang tidak mau datang. “Tanggal 5 Januari. Di capture dikirim ke korban untuk nakutin, tapi korban tidak datang sehingga dikirim rata-rata ke teman cewek,” ungkapnya, Rabu (6/2/2019).

Masih kata Kasat, video dan foto mesum tersebut disebarkan melalui WA dan story WA milik pelaku. Hal tersebut dilakukan lantaran korban berhubungan badan dengan mantan pacarnya sehingga pelaku marah. Korban disuruh datang tidak mau.

“Disebarkan satu, satu, masih didalami (siapa yang merekam video tersebut, red). Dari pengakuan, yang membuat atau merekam video tersebut mereka berdua tapi ini harus dikaji lagi dan didukung ahli. Akan kita datangkan ahli ITE untuk menyelidiki siapa yang merekam,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Mojokerto, AKBP Setyo Koes Heriyatno mengatakan, dari pengakuan pelaku jika video tersebut direkam sendiri, melalui HP milik pelaku. “Status perempuan masih saksi karena korban masih diperiksa. Penyidik hanya mengumpulkan alat bukti, akan mendatangkan ahli,” jelasnya.

Pelaki dijerat Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp1 milyar. Jo Pasal 29 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp6 milyar.

Dari kasus penyebaran video mesum tersebut, selain mengamankan pelaku di Desa Jimbe, Kecamatan Njenengan, Kabupaten Ponorogo, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti. Yakni tiga buah HP, masing-masing merk OPPA Neo 7 warna putih, OPPA A3 warna hitam dan Polytron warna hitam. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar