Peristiwa

Penertiban PKL Diwarnai Pengusiran, Kasatpol PP Kota Mojokerto Berdalih Hanya Monitoring

Petugas Satpol PP Kota Mojokerto melakukan penertiban PKL di Jalan Niaga Kota Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mojokerto diusir Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Niaga, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Aksi ini dilakukan lantaran petugas meminta identitas PKL yang dinilai masih bandel berjualan.

Petugas penegak peraturan daerah (perda) tersebut mendatangi para PKL yang masih menjajakan dagangannya di Jalan Niaga dan Pahlawan. Ini karena sebelumnya, PKL di dua jalan tersebut sudah relokasi sejak satu bulan lalu. Para PKL dihimbau agar tidak berjualan di trotoar ataupun bahu jalan.

Selain itu, petugas Satpol PP juga sudah melayangkan surat maupun himbauan kepada para PKL, bahkan sempat melakukan mediasi bersama Walikota Mojokerto. Ada 64 PKL yang akan dipindahkan ke dua pasar yang sudah disediakan oleh Pemerintah Kota Mojokerto. Yakni di Pasar Prajurit Kulon dan Juritan.

Salah satu PKL, Sumiati mengatakan, jika kejadian tersebut bermula saat petugas Satpol PP melakukan penertiban di Jalan Niaga. “Ada pedagang yang tidak terima karena diminta untuk memindah barang. Petugas berdalih jika dagangannya memakan bahu jalan,” ungkapnya, Kamis (8/4/2020).

Petugas membawa identitas PKL sehingga PKL tersebut mengusir petugas sehingga menimbulkan kerumunan warga. Masih kata Sumiati, ia juga sempat didatangi petugas dan diminta untuk memindahkan barang dagangannya. Namun tak ia lakukan karena ia berdalih jika dagangannya di atas sepeda dan ia berjualan di depan toko, tidak memakan bahu jalan.

“Pemicunya ya tadi itu, kemungkinan karena ada salah satu pedagang yang menolak KTP-nya dibawa petugas. Ini yang membuat PKL tidak terima kemudian mengusir petugas Satpol PP sehingga sempat ramai,” katanya.

PKL lainnya, Sugeng meminta kepada Pemkot Mojokerto untuk tidak memindahkan para pedagang dari Jalan Niaga. Karena ada 34 PKL di Jalan Niaga ingin tetap bisa mencari. “Kalau permintaan para PKL, khususnya warga Kota Mojokerto bisa bertahan disini. Karena sudah ada pelanggan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Mojokerto, Haryana Dodik Murtono menepis, jika terjadi pengusiran petugas Satpol PP saat melakukan penertiban di Jalan Niaga Kelurahan Sentanan, Kecamatan Krangan Kota Mojokerto. “Jadi, ini saya bisa jelaskan tadi itu bukan penertiban, namun hanya monitoring,” ujarnya.

Monitoring dilakukan untuk memastikan apakah ada yang masih banyak yang berjualan atau tidak di dua jalan tersebut. Dodik menegaskan, jika petugas tidak membawa identitas PKL saat melakukan monitoring. Jika ada yang di bawah identitasnya, artinya masih ada beberapa PKL yang berjualan.

“Yang jelas yang direlokasi adalah warga Kota Mojokerto, sedangkan yang dari luar Kota Mojokerto Pemkot masih belum bisa memberikan fasilitas. Karena dua pasar tersebut tempatnya terbatas. Kita juga sudah pasang banner himbauan kok, di sana tertulis untuk Pedagang Kreatif Lapangan seperti akik dan HP ada di Pasar Kliwon dan sebaliknya,” jelasnya.

Dodik menambahkan, Jalan Niaga dan Jalan Karyawan sering terjadi kemacetan di jam-jam tertentu karena selain banyak PKL yang berjualan juga karena dua jalan tersebut merupakan kawasan sekolah. Yakni di Jalan Karyawan ada SMPN 7 dan di Jalan Niaga ada SMP Katolik Santo Yosef.[tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar