Peristiwa

Pelaku Corat-coret Fasum di Mojokerto Karena Kecewa Tak Dapat Bantuan akan Dipanggil Pihak Desa

Sebuah tulisan di Pos Kampling RT 1 RW 6 Desa Tampung Rejo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Pihak Desa Tampung Rejo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto akan melakukan pemanggilan terhadap warga yang melakukan coret-coret di fasilitas umum (fasum). Pihak desa masih melakukan koordinasi dengan tiga pilar dan diketahui memang yang bersangkutan tidak layak menerima bantuan.

Kepala Desa (Kades) Tampung Rejo, Nur Hayati membenarkan, adanya salah satu warganya mencoret-coret fasum karena diduga tidak masuk dalam data base penerima bantuan dari pemerintah. “Semua bantuan dia tidak terima karena memang dia tidak layak menerima bantuan. Punya mobil, perhiasaan banyak,” ungkapnya, Sabtu (16/5/2020).

Masih kata Nur, kecuali jika layak menerima dan Kepala Dusun (kadus) tidak memasukan dalam data penerima bantuan. Namun pihaknya mengaku belum melakukan pemanggilan terhadap yang bersangkutan karena masih koordinasi dengan tiga pilar pembina masyarakat Desa, yakni Babinsa, Babinkamtibmas dan pihak desa.

“Belum kita panggil, saya baru terima laporan karena yang laporan belum pulang juga. Ini masih koordinasi dengan tiga pilar, jadi belum tahu alasan. Saya sudah menanyakan ke pihak Dusun, dia memang tidak layak menerima bantuan, mapan, rumah bagus, punya mobil, istrinya punya perhiasan. Bantuan banyak jenisnya dan tidak boleh double,” katanya.

Selama hampir dua minggu, para Kadus dikumpulkan dan digembleng terkait kreteria penerima bantuan untuk masing-masing jenis bantuannya. Tujuannya agar tidak tumpang tindih. Sebelumnya, di Desa Tampung Rejo ada 165 warga yang menerima bantuan Kementerian Sosial (Kemensos).

“Sebanyak 165 warga tersebut memang data lama, yakni sekitar 4 sampai 5 tahun lalu dan banyak yang sudah hidup mapan. Jadi beban desa juga tapi saat update data, hanya 120 warga yang terima dan semua memang layak mendapatkan bantuan. Sehingga sedikit mengurangi beban desa,” ujarnya.

Yang bersangkutan berprofesi sebagai kerja kepala tukang dan termasuk tokoh masyarakat di Desa Tampung Rejo. Di desa ia merupakan salah satu anggota Pokja Seksi Pembangunan. Tokoh masyarakat. Aksi corat-coret fasum tersebut sempat mendapat larangan dari orang tuanya tapi tetap dilakukan.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar