Peristiwa

Pejabat Muspika Bojonegoro Diharapkan Awasi Kedatangan WNA

Bojonegoro (beritajatim.com) – Pejabat Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) di Kabupaten Bojonegoro diharapkan bisa melakukan pengawasan terhadap Warga Negara Asing (WNA) yang berkunjung ke daerah. Baik melakukan kunjungan wisata, bekerja, maupun pendidikan.

Hal itu dimaksudkan agar muspika yang sering bersentuhan langsung dengan masyarakat bisa memberi informasi langkah-langkah penanganan, pencegahan dan informasi mengenai Virus Corona.

“Rapat koordinasi ini titik tekannya agar instansi pemerintah khususnya muspika bisa memberi informasi kepada masyarakat,” ujar Kepala Seksi Inteligen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas 1 Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Tanjung Perak, Washington S.D Napitupulu, Kamis (5/3/2020).

Apalagi, kata dia, pada 29 Februari lalu pemerintah membuat aturan baru, yakni Permen nomor 7 tahun 2020 yang menyatakan bahwa untuk warga negara Tiongkok masih di tolak berkunjung ke Indonesia. Selain itu penerbangan juga ditutup.

“Khusus warga negara Tiongkok dan warga lain yang melakukan perjalanan ke Tiongkok sebelum 14 hari ditolak masuk Indonesia. Karena masa inkubasi selama 14 hari,” ungkapnya saat melakukan Rapat Koordinasi Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) Kabupaten Bojonegoro Pada wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas 1 (TPI) Tanjung Perak di Bojonegoro.

Washington mengatakan, rata-rata warga asing yang datang ke Indonesia masih dari warga Asia, seperti Jepang dan Korea. Sedangkan warga Eropa masih urutan kedua. “Rata-rata kunjungan WNA melakukan wisata dan kedua baru bekerja,” jelasnya.

Sementara, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro dr Hernowo mengungkapkan untuk mengantisipasi peredaran Virus Corona (Covid-19) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sudah mengirimkan surat edaran untuk melakukan pengawasan terhadap orang yang usai melakukan perjalanan yang tersuspect Virus Corona.

Pemantauan terhadap orang yang berasal dari negara terjangkit dilakukan selama 14 hari. Karena selama itu biasanya imun tubuh paling tinggi. Di Kabupaten Bojonegoro, ada 35 orang yang datang dari negara terjangkit, namun setelah dilakukan observasi semuanya dinyatakan sehat.

“Biasanya setelah ada orang yang batuk pilek dan sesak kita bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk melakukan observasi. Jika batuk pilek, maka perlu dipastikan apakah flu biasa atau karena Virus Corona,” pungkasnya. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar