Peristiwa

Pedagang Tuntut Pasar Hewan di Jember Dibuka

Jember (beritajatim.com) – Sejumlah pedagang menuntut agar pasar hewan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dibuka. Mereka meminta pemerintah daerah bersikap adil dalam hal aturan penutupan pasar.

Keinginan itu disampaikan saat bertemu dengan Nyoman Aribowo, legislator Partai Amanat Nasional, di ruang Komisi B DPRD Jember, Senin (11/5/2020). Ada sembilan pasar hewan di Jember yang berada di Kecamatan Mayang, Pakusari, Bangsalsari, Kencong, Sumberbaru, Sabtuan Kaliwates, Mumbulsari, dan Kalisat. Pasar hewan ini tutup selama 1,5 bulan ini.

“Kami menuntut agar perdagangan di pasar hewan segera dibuka lagi. Apapun syaratnya dan bagaimanapun caranya sebelum hari raya ini, karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Hewan Ahmad One Prastiyono, usai pertemuan.

Menurut Prastiyono, pedagang pasar hewan tersisihkan. “Semua pasar tradisional buka, semua pasar moden buka, kenapa pasar hewan tidak buka? Apa alasannya? Itu harus jelas.”

Pekan lalu, Prastiyono sudah mendatangi kantor Dinas Peternakan. “Tapi tidak ada solusi apa-apa, karena pasar berada di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kami datang ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan sampai dua kali, tapi tidak bertemu kepala dinasnya,” katanya.

Sejumlah pedagang sudah menemui pemerintah kecamatan setempat. “Bahkan ada yang digeruduk dengan membawa kambing. Tapi camat tidak berani ber-statement apa-apa, karena tidak memiliki kewenangan. Ini murni kewenangan pemerintah kabupaten,” kata Prastiyono.

Perdagangan pasar hewan berdampak besar bagi masyarakat daerah. Prastiyono mencatat, ada 300 pedagang pasar hewan di Jember. “Rantai ekonominya banyak. Setiap pedagang bisa membawa 5-10 orang yang saling terkait, yang bila tidak ada transaksi, mereka juga tidak akan membawa apa-apa,” katanya.

Selama pasar hewan tidak buka, pedagang yang memiliki sapi dan kambing masih bisa menjual hewan ternak. “Tapi bagi yang ikut atau mendukung pedagang, mereka mau ngapain?” kata Prastiyono.

Jika tuntutan tersebut untuk membuka pasar hewan tidak dikabulkan, para pedagang akan bereaksi. “Kami siap menerima konsekuensinya untuk menerapkan standar prosedur Covid-19. Kami siap mengikuti prosedur itu. Tapi kalau pasar tetap tidak bisa dibuka, kami mungkin akan melakukan hal-hal yang harus kami lakukan untuk mempertahankan hidup kami. Teman-teman sudah siap semua: mau demo pakai sapi siap, mau ngeluruk siapapun siap. Asalkan pasar hewan dibuka sebelum hari raya,” kata Prastiyono.

Nyoman juga terkejut, setelah tahu pasar hewan tidak buka. “Pasar hewan luas, dan pengaturan jarak sangat mudah dilakukan. Yang dilakukan tinggal mengedukasi saja, menerapkan standar penanganan pencegahan Covid-19. Pasar tradisional buka, pasar sayur buka, mall buka, tidak ada alasan kuat pasar hewan tidak dibuka,” katanya. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar