Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Pedagang: Jualan Kambing dan Sapi Via Online Itu Tak Efektif

Pedagang kambing secara perorangan membuka bursa penjualan hewan kurban (foto : Temmy)

Sumenep (beritajatim.com) – Penutupan pasar hewan ternak di Sumenep selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dikeluhkan para pedagang kambing dan sapi.

Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Kambing, Kabupaten Sumenep, Samauddin menilai kebijakan itu akan berimbas pada perekonomian masyarakat. Dengan penutupan pasar hewan ternak, maka para pedagang kambing dan sapi akan kelimpungan. Apalagi saat menjelang Idul Adha yang merupakan masa ’emas’ penjualan kambing dan sapi.

“Tidak hanya para pedagang. Masyarakat yang sengaja memelihara kambing dan sapi untuk dijual saat Idul Adha juga merasa berat. Karena mereka kan berharap ternak peliharaannya bisa laku dengan harga bagus saat Idul Adha,” paparnya.

Ia menjelaskan, meski bisa melakukan penjualan sapi dan kambing secara onlie, namun cara itu
dinilai tidak efektif, karena bisa merugikan pembeli.

“Berjualan hewan kurban ini kan berbeda dengan jual sembako atau lainnya. Kalau mau beli hewan kurban, calon pembeli harus melihat secara langsung hewan yang akan dibeli. Apa kondisinya sudah memenuhi syarat, apa besarnya sesuai dengan yang diinginkan? Apakah kondisinya sesuai harga yang disepakati atau tidak? Kalau secara online kan sulit,” ungkapnya.

Samaudin menjelaskan, penjualan sapi dan kambing secara online kurang diminati. Calon pembeli biasanya ragu-ragu kalau hanya melihat gambar atau fotonya saja. Pembeli akan bertanya-tanya, apa memang benar kondisinya sama bagusnya dengan di foto.

Penutupan pasar hewan di Sumenep selama PPKM darurat (foto : ist)

“Pembeli pasti khawatir, jangan-jangan cuma bagus di fotonya. Kelihatan gemuk karena teknik pengambilan fotonya bagus. Kenyataannya tidak seperti itu. Atau di foto terlihat sehat, ternyata cacat. Ini kan merugikan pembeli. Mangkanya kurang diminati,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap agar kebijakan penutupan pasar hewan tersebut dikaji ulang, demi menjaga tatanan ekonomi masyarakat lebih baik. “Coba pemerintah memberikan solusi lain. Yang penting jangan ditutup,” ucapnya.

Sebelumnya, Forkopimda Sumenep memutuskan untuk menutup pasar hewan selama masa pandemi. Hal itu dinilai perlu dilakukan, mengingat keberadaan pasar hewan rawan mengundang kerumunan. Apalagi menjelang Idul Adha. Karena itu, diputuskan agar segala aktifitas di pasar hewan ternak dihentikan. Pedagang dipersilahkan menjual hewan kurban secara perorangan, atau melalui online. [tem/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati