Peristiwa

 NU Probolinggo Serukan Perbaikan Tanggul dan Normalisasi Sungai

Probolinggo (beritajatim.com) – PCNU Kabupaten Probolinggo menyerukan perbaikan tanggul dan normalisasi sungai Kedunggaleng yang melintasi Desa Dringu dan Desa Kedung Dalem, Kec. Dringu.

Rusaknya tanggul dan pendangkalan sungai, diyakini menjadi salah satu pemicu banjir yang menggenangi ribuan rumah warga di dua desa tersebut. Banjir telah terjadi empat kali dalam 11 hari terakhir.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Kiai Abdul Hamid usai rapat pengurus NU, Rabu (10/3/2021) siang. Rapat secara khusus membahas bencana banjir yang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Dringu.

“Kami berharap Pemkab Probolinggo bersama Pemprov Jatim memperbaiki tanggul yang jebol. Sehingga ke depan, banjir tidak terjadi lagi,” katanya.

Mengenai normalisasi, perlu dilakukan karena Sungai Kedunggaleng mengalami pendangkalan. Sehingga tak mampu menampung debit air dari hulu. “Menurut laporan, sungainya sudah dangkal,” ujarnya.

Rentetan banjir Dringu dimulai Sabtu (27/2/2021) petang. Air Sungai Kedunggaleng meluap. Tanggul di sejumlah titik jebol. Air laut pasang. Ribuan rumah warga di Desa Dringu dan Kedung Dalem terendam.

Minggu (28/2/2021) malam, banjir terjadi lagi. Lebih besar dibanding sebelumnya. Banjir ketiga, datang Senin (8/3/2021) petang. Kali ini, lebih dari 1.200 warga Desa Kalirejo dan Tegalrejo kena dampak. Semuanya masuk Kecamatan Dringu.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Probolinggo, sedikitnya ada 1.837 keluarga dengan 5.692 jiwa yang terdampak banjir Senin petang.

Rinciannya, 529 keluarga (1.764 jiwa) di Desa Kedung Dalem, dan sebanyak 901 keluarga (2.641 jiwa) di Desa Dringu.

Di Desa Kalirejo, banjir menggenangi 350 keluarga (1.059 jiwa). Sementara di Desa Tegalrejo, tercatat 57 keluarga (228 jiwa).

Kiai Abdul Hamid menuturkan, keluarga besar PCNU Kabupaten Probolinggo sangat prihatin atas bencana tersebut. Apalagi bencana tidak sehari atau dua hari saja, melainkan sudah sepekan lebih.

Sebagai bentuk keprihatinan, PCNU telah menggalang dana untuk membantu korban terdampak. Badan otonom (banom) dan lembaga juga telah diterjunkan untuk berbaur dengan relawan lain di lokasi bencana. Pengurus NU juga telah beberapa kali meninjau lokasi bencana.

Warga terdampak banjir diharap sabar, sambil berikhtiar lahir maupun batin, dengan mendekatkan diri pada Allah dengan istighosah atau lainnya.

“Dalam setiap kegiatan atau acara, pengurus NU di semua tingkatan diharap ikut berdoa untuk saudara kita di Dringu,” harap Kiai Hamid.

Berkenaan dengan penanganan darurat bencana banjir, PCNU menyerukan agar keselamatan jiwa diutamakan. Begitu juga dengan kebutuhan darurat warga terdampak. (eko/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar